KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek pemulihan kinerja PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) pada 2026 ditopang oleh pertumbuhan permintaan semen domestik, kenaikan harga jual, serta efisiensi operasional. Analis pun memproyeksikan pendapatan dan laba bersih SMGR tumbuh pada tahun ini, meski perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan. Tercatat, industri semen Indonesia mengalami pertumbuhan yang kuat pada semester I-2026. Permintaan semen domestik meningkat 10,2% secara tahunan (YoY) menjadi 29,9 juta ton, didukung oleh peningkatan aktivitas konstruksi selama musim kemarau. Sejalan dengan itu, Equity Research Analyst PT Binaartha Sekuritas, Eka Rahmawati Rahman, mengatakan SMGR mengalami perbaikan kinerja operasional pada kuartal II-2026. Itu ditopang oleh pemulihan permintaan domestik, kenaikan harga jual, serta pemulihan aktivitas pasar ritel secara bertahap.
Tak hanya itu, pemulihan kinerja juga didukung dari sisi harga. Kenaikan harga jual rata-rata (
average selling price/ASP) domestik dan ekspor masing-masing meningkat 6,9% dan 15,0% YoY, sehingga mendorong kenaikan ASP gabungan sebesar 7,2%.
Baca Juga: Pengelola RS Mayapada (SRAJ) Targetkan Pendapatan Tumbuh 10%-15% hingga Akhir 2026 “SMGR menerapkan dua kali kenaikan harga selama semester I-2026. Sementara itu, pangsa pasar domestik relatif stabil di level 46,2%, dibandingkan 46,5% pada semester I-2025,” jelas Eka dalam riset 9 Oktober 2026. Memasuki semester II-2026, Rahma memperkirakan proyek-proyek pemerintah akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap permintaan. Proyek tersebut mencakup Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, Kampung Nelayan, serta proyek jalan tol. Permintaan dari sektor swasta juga diperkirakan tetap berlanjut. Secara regional, permintaan masih lebih kuat di Sumatra. Sebaliknya, Kalimantan masih menghadapi tantangan relatif besar akibat aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang lebih lambat. Dari sektor swasta, permintaan semen diperkirakan didorong oleh investasi industri dan hilirisasi, pembangunan hunian bertingkat, kawasan komersial, serta pusat data (data center).
Head of Research OCBC Sekuritas Budi Rustanto pun tetap berpandangan positif terhadap prospek SMGR. Ia bilang arah SMGR ke depan disokong oleh empat faktor utama.
Pertama, pertumbuhan volume penjualan semen yang solid, terutama didukung oleh kebijakan fiskal yang akomodatif, perpanjangan insentif pembebasan PPN 100% untuk pembelian rumah, program pembangunan tiga juta rumah, peningkatan belanja pemerintah, serta proyek infrastruktur strategis.
Kedua, kenaikan harga jual dan strategi keunggulan biaya perusahaan, yang didukung oleh konsolidasi bisnis dan restrukturisasi. Ketiga, lokasi pabrik yang strategis dan posisi sebagai pemimpin pasar, disertai tingkat utilisasi yang relatif tinggi. Dan terakhir, rasio utang yang lebih rendah yang turut mendukung penguatan struktur keuangan perusahaan. Walau demikian, Budi juga mencatat sejumlah risiko berpotensi membebani permintaan pada semester II-2026, antara lain suku bunga kebijakan yang tinggi, rasionalisasi belanja pemerintah, pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, serta potensi inflasi pangan akibat fenomena El Niño. Eka juga bilang, setelah SMGR mengonsolidasikan sepuluh anak usaha menjadi dua lini bisnis utama pada Agustus 2026, perusahaan terus melakukan penyederhanaan operasional. Kedua lini bisnis tersebut meliputi bisnis beton siap pakai (ready-mix) melalui PT Varia Usaha Beton serta distribusi dan logistik melalui PT Semen Indonesia Distributor. Pun, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Bob Setiadi, menyebut SMGR juga menargetkan untuk keluar dari operasi bisnisnya di Vietnam pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027 untuk memfokuskan diri pada pasar Indonesia. Tapi dicatatnya pula bahwa kendala pasokan batu bara berdampak negatif terhadap produksi semen pada periode Mei hingga Juli 2026. Kalau menurut Bob, SMGR juga menemui sejumlah tantangan, misalnya persaingan harga yang lebih ketat di Jawa serta permintaan semen curah yang lebih lemah, dan penerapan peraturan
Over Dimension Over Loading (ODOL). “Namun, kondisi pasokan membaik sejak akhir Juli menyusul kerja sama dengan sesama BUMN produsen batu bara, PT Bukit Asam,” ujar Bob. Melihat kinerja keuangannya, Bob memproyeksikan pendapatan SMGR bisa mencapat Rp 38,27 triliun pada 2026, meningkat 8,57% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 35,24 triliun. Sementara itu, laba bersih SMGR diperkirakan melonjak 164,4% menjadi Rp 505 miliar pada 2026, dari realisasi Rp 191 miliar pada 2025.
Melihat sejumlah faktor di atas, Bob memberikan rekomendasi untuk add SMGR dengan target harga diturunkan menjadi Rp 2.500 per saham, dari sebelumnya Rp 3.000 per saham. Kemudian Eka merekomendasikan buy SMGR dengan target harga Rp 2.680 per saham. Tak ketinggalan, Budi juga memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham SMGR dengan target harga Rp 2.200 per saham.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Aksi Jual Asing, Simak Proyeksi Kurs Besok Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News