Laba bersih Wilmar International anjlok 28% di kuartal keempat 2010



SINGAPURA. Wilmar International Ltd mencatat penurunan laba bersih 28% pada kuartal keempat lalu. Penurunan ini karena penurunan harga di China. Apalagi, pajak ekspor yang lebih tinggi di Indonesia turut mengikis margin perusahaan.Produsen minyak sawit terbesar di dunia ini melaporkan laba bersih turun menjadi US$ 318,6 juta, dibanding tahun sebelumnya US$ 442 juta. Jumlah ini melenceng dari prediksi analis yang memperkirakan bisa mencapai US$ 392 juta. Sementara, pendapatan perusahaan naik 31% menjadi US$ 9,1 miliar pada kuartal tersebut.Lebih tingginya pajak ekspor di Indonesia menyebabkan biaya penjualan dan distribusi Wilmar melonjak 78%. Selain itu, pada Desember, Cina meminta pemasok menurunkan harga, karena negara ini berusaha menahan inflasi harga pangan. Padahal, Wilmar menguasai sekitar setengah pasar minyak goreng di China. Carey Wong, analis dari OCBC Investment Research Pte. menyebut, Wilmar terjebak antara kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga ritel China. "Kondisi itu akan bertahan setidaknya untuk dua kuartal ke depan," ujarnya.

Meskipun tahun lalu kinerjanya lemah, namun Wilmar tetap optimis untuk kinerja tahun ini. Chief Executive Officer Kuok Khoon Hong menyebut, penurunan harga di China tidak menjadi masalah jangka panjang bagi perusahaan."Outlook ekonomi Asia tetap positif. Wilmar akan terus berinvestasi dalam bisnis yang sudah ada, juga bisnis baru sebagai bagian dari strategi pertumbuhan usaha," ujarnya, hari ini.

Sementara, Direktur keuangan perusahaan, Francis Heng mengatakan, perusahaan mengekspektasi belanja modal sekitar US$ 1 miliar di 2011. Jumlah ini tidak berubah dari belanja modal tahun lalu.


Editor: Dupla Kartini