Laba Bisnis Rumput Sintetis Masih Subur



JAKARTA. Permainan futsal mulai digandrungi di tanah air sekitar 2003 silam. Sejatinya, futsal tak jauh beda dengan sepakbola. Kelebihan lapangan futsal karena konsep indoor, sehingga permainan bisa dilakukan sepanjang waktu.Memasuki 2007 permainan futsal semakin booming, tak heran kian marak pula penyewaan lapangan futsal. Sehingga, bisnis rumput sintesis sebagai bahan untuk lantai lapangan futsal pun bermunculan.Salah satu pemain di rumput sintesis adalah PT Graha Mandiri sejak 2004. Manajer Pemasaran Graha Mandiri Guntur Wahyudi bilang meski sudah mulai booming sekitar 2 tahun lalu, tapi permintaan pemasangan rumput futsal masih terus mengalir."Pasarnya belum turun, bahkan ada kenaikan sekitar 20% dibanding tahun lalu," sebutnya.Setidaknya dia bilang menerima sekitar 10-13 permintaan pemasangan untuk futsal dalam sebulan. Permintaan tak saja dari wilayah Jawa, tapi juga dari Pekanbaru, Palembang, hingga Kalimantan.Guntur mendatangkan rumput sintetis dari China yang terdiri dari dua jenis yaitu fibrilated dan monofilamen. Menurutnya, rumput produksi China berkualitas paling bagus. Satu rol rumput minimal berukuran 4x32 meter atau 128 meter persegi. Namun, Guntur tak bersedia membeberkan harga beli rumput asal China itu.Tapi, dia mengaku biasanya melego rumput sintesis seharga Rp 165 ribu (fibrilated) hingga Rp 175 ribu (monofilamen) per meter perseginya. Harga rumput sintesis biasanya mengikuti naik turun dollar.Belum termasuk bahan lain dan aksesoris untuk pemasangan rumput seperti pasir, lem, dan karet, serta jasa pemasangan Rp 20 ribu per meter persegi. Dari pemasangan rumput sintesis Guntur menyebut dalam sebulan bisa meraup omset Rp 1 miliar - Rp 1,3 miliar. Sekitar 20% dikantongi sebagai keuntungan.Soal peluang bisnis ini, dia menyebut dalam beberapa tahun ke depan masih bagus. Orang akan cenderung mencari lapangan indoor untuk bermain bola, sebab ke depan akan makin sulit menemukan lapangan terbuka.Selain dari penjualan rumput, Guntur bilang pemasukan juga diperoleh dari penyewaan lapangan futsal. Untuk wilayah Jakarta harga sewanya Rp 200 ribu - Rp 300 ribu per jam, sedangkan luar Jakarta sekitar Rp 130 ribu per jam.Omset dari penyewaan satu lapangan futsal mencapai Rp 70 juta - Rp 150 juta untuk wilayah Jakarta. Sedangkan untuk luar Jakarta berkisar Rp 70 juta - Rp 100 juta sebulan."Kalau dibanding di awal waktu 2004-2005 sedikit berkurang, karena sekarang semakin banyak pemainnya, kalau dulu bisa sampai Rp 200 juta sebulan," imbuh Guntur.Supaya bisa bertahan dalam persaingan yang kian padat, Guntur bilang pihaknya mengutamakan kualitas rumput, harga, dan pelayanan yang semaksimal mungkin. Sedangkan strategi untuk menjaga titik jenuh permintaan rumput sintesis, Guntur sejak tahun ini mulai menawarkan lantai jenis Finil dari bahan karet. Harganya 20% lebih mahal dibanding rumput sintesis.Masih menariknya bisnis rumput sintesis juga diakui Abdul Aziz yang juga bermain di bisnis rumput sintesis sejka 2006. Dia bilang permintaan rumput masih bagus dan cenderung stabil. "Rata-rata 1 sampai 2 permintaan untuk lapangan futsal dalam sebulan," sebutnya.Abdul memasok rumput sintesis dari China dan Turki. Dia mengaku permintaan datang dari seluruh Indonesia.Dia masih optimis permintaan rumput beberapa tahun ke depan masih bakal bagus. Sebab, menurutnya lama pemakaian rumput yang disarankan hanya 5 tahun, sehingga untuk kenyamanan orang pasti akan mengganti dengan rumput baru.

"Tapi sebagai antisipasi ke depan kita akan lakukan diferensiasi produk, lebih variatif model dan bahannya," pungkas Abdul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News