Laba BNI (BBNI) Semester I-2026 Diproyeksi Rp 11,1 Triliun, Begini Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga sebesar Rp 4.800 per saham. Valuasi tersebut didasarkan pada asumsi 1,0 kali price to book value (PBV) tahun buku 2026.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim dalam riset 23 Juli 2026 memperkirakan kinerja laba BBNI masih memiliki ruang pertumbuhan, dengan laba bersih perusahaan pada semester I 2026 diproyeksikan meningkat 9,5% secara tahunan menjadi Rp 11,1 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama akan ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) yang didorong ekspansi kredit, meskipun sebagian dampaknya akan terimbangi oleh peningkatan biaya pencadangan (provisions).


Baca Juga: Lembaga Keuangan Makin Mengandalkan Data, CLIK Memperkenalkan Propensity Score

Menurut Jeffrosenberg, kinerja BBNI pada paruh pertama 2026 diperkirakan lebih kuat dibandingkan semester II 2026. Hal ini karena sejumlah faktor pendukung seperti basis kredit yang rendah pada periode sebelumnya serta dampak penyaluran fasilitas Agrinas secara bertahap mulai berkurang. Di sisi lain, kondisi likuiditas yang lebih ketat dan kenaikan biaya dana (funding cost) berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap margin pada paruh kedua tahun ini.

“BBNI masih memiliki valuasi yang menarik di level 0,8 kali P/BV, lebih rendah dibandingkan rata-rata bank BUMN lain yang berada di sekitar 1,4 kali P/BV,” ujar Jeffrosenberg dalam risetnya.

Meski demikian, ia mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor, terutama tekanan margin yang lebih tajam serta potensi pelemahan kualitas aset.

Jeffrosenberg memperkirakan pendapatan bunga bersih BBNI akan tumbuh 12,5% secara year on year (yoy) pada semester I 2026. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan volume kredit yang mampu mengompensasi penurunan margin.

Penyaluran kredit BBNI diproyeksikan tumbuh lebih dari 20% yoy, ditopang oleh basis rendah pada semester I 2025 serta penyaluran fasilitas Agrinas senilai Rp 55 triliun. Fasilitas tersebut memiliki masa tenggang pembayaran selama enam hingga 12 bulan sejak Maret 2026.

Namun, persaingan yang semakin ketat di segmen kredit korporasi serta kondisi likuiditas dana pihak ketiga yang mulai mengetat diperkirakan akan menekan tingkat imbal hasil kredit dan biaya pendanaan bank.

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa Tertekan, BRI Life Memperkuat Jaringan Layanan Nasabah

Tekanan tersebut diperkirakan semakin terasa pada semester II 2026 sehingga momentum pertumbuhan laba berpotensi melambat.

Dari sisi pendanaan, Jeffrosenberg menilai posisi loan to deposit ratio (LDR) BBNI yang berada di kisaran 88% masih memberikan ruang bagi bank untuk mengelola biaya dana dalam jangka pendek.

Kondisi tersebut memungkinkan BBNI lebih selektif dalam menghimpun deposito berbiaya tinggi sehingga tekanan terhadap margin dapat diredam sepanjang semester I 2026.

Namun, apabila pertumbuhan kredit berlanjut secara konsisten, bank pada akhirnya perlu memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga, yang diperkirakan mulai terjadi sejak kuartal III 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya dana dan menekan margin pada paruh kedua tahun berjalan.

Dari sisi kualitas aset, Maybank Sekuritas memperkirakan kredit korporasi BBNI masih akan tetap stabil. Namun, segmen kredit konsumer menunjukkan adanya pelemahan kualitas secara industri.

Karena itu, BBNI diperkirakan secara bertahap meningkatkan pencadangan untuk membangun bantalan risiko terhadap potensi peningkatan kredit bermasalah di segmen konsumer.

Meski demikian, Jeffrosenberg menilai kondisi kualitas aset secara keseluruhan masih berada dalam level yang terkendali. Biaya kredit (credit cost) BBNI diperkirakan berada di sekitar 1,2% pada semester I 2026.

Pada tahun ini, BBNI diperkirakan mengantongi laba bersih sebesar Rp 20,9 triliun, naik tipis dari tahun 2025 sebesar Rp 20,04 triliun.

Harga saham BBNI turun 2,5% di Rp 3.510 per saham pada pukul 15.08 WIB pada Jumat (24/7/2026). 

Baca Juga: Asuransi Maximus (ASMI) Siapkan Dana Buyback Saham Rp 17,92 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News