KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (
BRIS) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,96 triliun pada kuartal II 2026. Capaian tersebut tumbuh 5% secara tahunan (
year on year/yoy), namun turun 11% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) akibat penurunan total pendapatan. Dengan demikian, laba bersih BRIS sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar Rp4,2 triliun, tumbuh 11% yoy. Menurut analis CGS International Sekuritas Indonesia Handy Noverdanius dalam riset 21 Agustus 2026, realisasi tersebut setara dengan 49% dari estimasi laba tahun buku 2026 versi CGS dan 48% dari konsensus, sehingga masih sesuai dengan ekspektasi. Pertumbuhan laba bersih BRIS pada semester I 2026 terutama ditopang oleh kenaikan total pendapatan sebesar 10,5% yoy dan penurunan beban provisi sebesar 22% yoy.
Baca Juga: KISI Siap Jadi Penjamin Emisi Sukuk Daerah Sumatra Barat, Target Terbit 2027 Namun, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) pada kuartal II 2026 turun 5% qoq menjadi Rp4,7 triliun. Alhasil, NII semester I 2026 tercatat Rp 9,7 triliun atau hanya tumbuh 2% yoy. Handy mengatakan, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BRIS pada semester I 2026 berada di level 5,4%, turun 30 basis poin (bps) yoy. Posisi tersebut kini berada di bawah panduan perseroan untuk tahun 2026 yang berada di atas 5,5%. Penurunan NIM terutama disebabkan oleh imbal hasil pembiayaan yang turun 76 bps yoy menjadi 8,5%. Di sisi lain, biaya dana (cost of funds/CoF) relatif stabil di level 2,2%, meski likuiditas sistem perbankan masih ketat. Dari sisi penyaluran pembiayaan, BRIS mencatat pertumbuhan yang cukup solid. Pembiayaan pada kuartal II 2026 mencapai Rp341 triliun, tumbuh 4% qoq dan 16% yoy. Pertumbuhan tersebut masih berada dalam kisaran panduan perseroan dan terutama didorong bisnis emas yang tumbuh 81% yoy serta pembiayaan berbasis payroll yang naik 15% yoy. BRIS juga terus memperkuat infrastruktur digitalnya. Pada kuartal II 2026, perusahaan meningkatkan sistem core banking untuk mendukung akuisisi nasabah dalam skala besar. Setelah peningkatan sistem tersebut, BRIS berhasil mencatat penambahan rekor sebanyak 225.000 nasabah pada Juli 2026. Dengan tambahan tersebut, total basis nasabah BRIS mencapai 24,5 juta. Menurut Handy, manajemen BRIS meyakini peningkatan sistem core banking akan membuka ruang bagi kenaikan fee-based income dan penetrasi produk. Penguatan sistem juga diharapkan memperluas basis nasabah sehingga dapat mendorong pertumbuhan dana murah sekaligus mendukung ekspansi pembiayaan. Perbaikan funding franchise menjadi salah satu manfaat lain dari peningkatan sistem tersebut. BRIS melihat adanya kapasitas dan kemampuan yang lebih besar untuk meningkatkan dana murah atau current account savings account(CASA).
Baca Juga: YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Sepihak, Imbau Bank Mandiri Agar Transparan Ke depan, BRIS akan terus meningkatkan penetrasi nasabah haji yang mencapai 7,3 juta nasabah per Juni 2026. Perseroan juga akan memperkuat franchise CASA untuk mengelola biaya dana. Dari sisi kualitas aset, risiko kredit BRIS masih relatif terkendali. Cost of Credit (CoC) pada semester I 2026 tercatat 62 bps, turun 33 bps yoy. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) berada di level 1,8%, relatif stabil baik secara qoq maupun yoy. Sementara itu, rasio Financing at Risk (FAR) tercatat 8,03%, turun 43 bps qoq tetapi meningkat 1,1 poin persentase yoy. Handy menjelaskan, penurunan FAR secara kuartalan terutama disebabkan oleh satu debitur BUMN yang kembali masuk ke kategori lancar (current). Meski demikian, risiko pada segmen konsumer masih perlu dicermati. FAR segmen tersebut meningkat 2,5 poin persentase yoy menjadi 6,2%. Kenaikan terutama dipengaruhi faktor musiman, seiring pembiayaan berbasis payroll yang berpindah ke bank lain. Manajemen BRIS menyatakan tidak memperkirakan NPF segmen konsumer akan terus meningkat. Kendati demikian, perseroan tetap akan memantau secara ketat perkembangan kualitas aset pada segmen tersebut. Terkait ketentuan free float Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen BRIS menyampaikan masih mengeksplorasi berbagai opsi untuk memenuhi persyaratan tersebut. Handy mempertahankan rekomendasi add untuk saham BRIS seiring berlanjutnya perbaikan funding franchise perseroan. Namun, CGS International Sekuritas Indonesia menurunkan target harga BRIS berbasis metode Gordon Growth Model (GGM) menjadi Rp2.600 per saham. Penurunan target harga tersebut dipicu kenaikan tingkat bebas risiko (risk-free rate) dan premi risiko ekuitas (equity risk premium) akibat meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun.
Baca Juga: Manajemen Komunikasi Bank Mandiri Disorot dalam Polemik Rekening Koordinator AMPB Menurut Handy, katalis positif bagi re-rating saham BRIS berasal dari perbaikan funding franchise dan peningkatan efisiensi biaya operasional. Sebaliknya, risiko penurunan (downside risk) yang perlu diperhatikan investor adalah memburuknya kualitas kredit serta tekanan terhadap NIM. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News