KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Di tengah lesunya industri perbankan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba double digit pada akhir tahun 2025 lalu. Namun begitu, bank mematok target pertumbuhan yang lebih landai di akhir tahun nanti. Hingga Desember 2025, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp 3,5 triliun, tumbuh 16,4% secara tahunan (y
ear-on-year/yoy). Sejalan dengan itu, margin pendapatan bunga
(net interest margin/NIM) bank juga naik dari posisi 2,9% menjadi 4,2% dalam periode ini. Kinerja positif laba BTN ini utamanya ditopang oleh kencangnya laju pertumbuhan pendapatan bunga bersih (
net interest income/NII), yang mencapai 57,5% yoy menjadi Rp 18,42 triliun. Jika dirinci, capaian itu sejalan dengan pendapatan bunga yang tumbuh 23% yoy menjadi Rp 36,34 triliun sementara beban bunga hanya tumbuh 0,4% yoy menjadi Rp 17,91 triliun.
Itu berhasil menambal penurunan pendapatan non bunga bank yang terkoreksi 9,5% yoy menjadi Rp 4,17 triliun dan peningkatan signifikan pada beban bunga hingga 205,1% yoy menjadi Rp 6,17 triliun.
Baca Juga: BTN Naikkan Anggaran Capex Sebesar 5% di 2026 Dari sisi intermediasi, kredit BTN juga berhasil tumbuh di atas industri, yakni sebesar 11,9% yoy sehingga outstanding mencapai Rp 400 triliun. Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp 437,4 triliun. Dari jumlah itu, dana murah bank mencapai 38,7%, yakni sebesar Rp 169,2 triliun atau tumbuh 5,2% yoy. Kontras, deposito bank yang tergolong dana mahal turun 3,6% yoy menjadi Rp 43,9 triliun. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, masifnya pertumbuhan kredit dan pendapatan bunga tahun ini didorong oleh Kredit Program Perumahan (KPP), yang mana program ini mendapat subsidi pemerintah hingga setengah dari bunga kredit. “Kami memang mulai masuk ke segmen-segmen yang yield-nya tinggi,” jelas Nixon usai paparan kinerja di Jakarta, Senin (9/2/2026). Pun, tahun ini KPP masih bakal diandalkan sebagai motor pendorong kredit BTN. Nixon menjelaskan, pihaknya menargetkan kuota penyaluran KPP sebesar Rp 17 triliun, dengan Rp 10 triliun di antaranya disalurkan pada paruh awal tahun. Selain KPP, Nixon bilang produk lainnya yang memberikan imbal hasil tinggi bagi bank adalah kredit tanpa agunan (KTA) dan sektor komersial. Di samping itu, keberhasilan bank menekan beban bunga menjadi faktor lainnya yang mendorong pertumbuhan laba.
Produk Baru
Tahun ini, BTN juga bakal mendapat tambahan pemasukan dari peluncuran sejumlah produk baru. Pada kuartal I-2026 ini BTN bakal meluncurkan paylater, yang dipastikan telah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan siap menyumbang pemasukan begitu rampung berproses di Bank Indonesia (BI). Selain itu, bank juga bakal meluncurkan kredit kendaraan bermotor (KKB), kemudian kartu kredit di penghujung tahun. Untuk tahap awal, rencananya bank bakal memaksimalkan basis nasabah eksisting, baik dari nasabah funding maupun debitur KPR.
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menyebut, dengan produk-produk baru ini BTN berupaya menjadi bank konsumer terdepan. Pun secara kualitas aset, ia memastikan pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi untuk menekan rasio kredit bermasalah (
non performing loan/NPL). Maklum, NPL bank tahun lalu memang masih turun terbatas, dari posisi 3,2% pada 2024 menjadi 3,1% pada 2025. Untuk menekan angka NPL lebih lanjut, BTN kini menyiapkan modernisasi pada sistem pengaturan kredit. “Kami modernisasi semua. Sekarang 80% dari proses konsumer sudah diproses secara otomatis, pemutusannya sekarang pakai mesin, pakai AI,” jelas Setiyo. Dengan berbagai amunisi ini, bank menargetkan pertumbuhan laba di kisaran 8%–10%. Nixon menyebut, saat ini bank juga berfokus menjaga biaya beban (
cost of fund/COF) stabil di level 3%. Nah, soal COF ini, menurutnya, tergantung kondisi likuiditas di pasar. Kalau likuiditas kembali mengetat, bukan tak mungkin perang bunga bakal kembali terjadi. “Semester satu ini kemungkinan besar likuiditas ample, ini kesempatan kami menjaga COF agar tak melebihi 3,2%. Dari sana kami akan nyerok laba lebih baik,” jelas Nixon.
Baca Juga: Pertumbuhan Kinerja Bank Besar Tertekan Bisnis Anak Usaha yang Lesu Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News