Laba BTPN Syariah (BTPS) Naik Jadi Rp 655 Miliar, Kualitas Pembiayaan Tetap Terjaga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Memasuki usia ke-12 tahun, BTPN Syaria berupaya memperkuat posisinya sebagai bank syariah yang berfokus melayani segmen ultra mikro. Emiten berkode saham BTPS ini menila,i kualitas pembiayaan yang tetap sehat menjadi fondasi utama dalam menjaga kinerja sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Bagi BTPN Syariah, kualitas pembiayaan tidak hanya mencerminkan kesehatan bisnis bank, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya kapasitas dan ketahanan nasabah dalam mengelola usahanya.

Selama 12 tahun terakhir, BTPS tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga melakukan pendampingan kepada nasabah melalui penguatan empat perilaku unggul, yakni Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu (BDKS).


Di sisi lain, BTPN Syariah mulai mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui pembiayaan non-komunitas. Segmen tersebut mencakup pinjaman individu serta pembiayaan kepada lembaga nonkeuangan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperluas portofolio pembiayaan dan memperkuat fondasi bisnis.

Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad mengatakan, memasuki usia ke-12 tahun, perseroan akan terus memperkuat kualitas pembiayaan sekaligus mengembangkan berbagai inisiatif baru untuk memperluas pertumbuhan bisnis.

Baca Juga: Saham BMRI, BBNI, BBCA Memerah di Sesi Siang, Kredit Tumbuh Tapi Likuiditas Tertekan

"Kami akan terus memperkokoh fondasi melalui kualitas pembiayaan sehat serta bertumbuh lebih beragam melalui pengembangan inisiatif baru bagi nasabah kami. Semakin besar dampak yang kami hadirkan bagi nasabah, semakin kuat pula pertumbuhan berkelanjutan yang dapat kami ciptakan," ujar Fachmy, akhir pekan lalu. 

Pada semester I 2026, BTPN Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp 655 miliar, naik 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 644 miliar. Total aset perseroan tumbuh 8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 23 triliun.

Penyaluran pembiayaan juga meningkat 9% secara tahunan menjadi Rp 11 triliun. Di saat yang sama, rasio keuangan tetap terjaga. Return on assets (ROA) sebesar 7,2% dan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 58,7%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News