KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (
PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp 4,41 triliun hingga kuartal III-2026, melonjak 216,3% secara tahunan atau
year on year (YoY) dibandingkan Rp 1,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan pendapatan, penguatan harga jual rata-rata batu bara, serta pengendalian biaya operasional. Pendapatan usaha PTBA mencapai Rp 35,20 triliun, meningkat 12,4% YoY dari Rp 31,33 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan hingga kuartal III-2026 didukung oleh pemulihan produksi, optimalisasi bauran penjualan, serta disiplin dalam pengelolaan biaya dan operasional.
Baca Juga: Chandra Daya (CDIA) Cetak Pendapatan Naik 16% Jadi US$ 122 Juta per September 2026 “Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin,” ujar Bambang dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026). Dari sisi operasional, produksi batu bara PTBA mencapai 34,41 juta ton hingga September 2026, turun 4,1% YoY dari 35,90 juta ton. Volume penjualan juga menyusut 4,4% menjadi 32,23 juta ton dari sebelumnya 33,70 juta ton. Sementara itu, volume angkutan batu bara turun 9,8% menjadi 27,08 juta ton. Meski volume penjualan menurun, PTBA mampu meningkatkan pendapatan seiring kenaikan harga jual rata-rata atau
average selling price (ASP) sebesar 18% secara tahunan. Penguatan ASP tersebut sejalan dengan kenaikan indeks harga batu bara Newcastle dan ICI-3, masing-masing sebesar 25% dan 26% YoY. Dari komposisi penjualan, pasar domestik menyumbang 16,62 juta ton atau sekitar 51,5% dari total penjualan. Adapun penjualan ekspor mencapai 15,61 juta ton, setara 48,5% dari total penjualan, dengan lima negara tujuan utama yakni Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,6% ke 5.142,8 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: ISAT, BRPT, WIFI Kenaikan pendapatan juga diikuti peningkatan laba kotor sebesar 103,9% YoY menjadi Rp 7,27 triliun. Laba usaha melonjak 220,3% menjadi Rp 5,11 triliun, sedangkan EBITDA meningkat 102,2% menjadi Rp 7,19 triliun. Margin laba bersih tercatat 13%, sementara margin EBITDA mencapai 20%. Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan naik tipis 0,6% menjadi Rp 27,94 triliun. PTBA menyebut kenaikan harga bahan bakar sebesar 36% YoY menambah tekanan biaya operasional penambangan dan pengangkutan batu bara. Namun, dampaknya dapat diimbangi oleh penurunan
stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali, serta berkurangnya volume produksi dan angkutan. Selain itu, biaya keuangan turun 45% YoY menjadi Rp 136,52 miliar, seiring berkurangnya beban bunga setelah penyelesaian fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025. Bagian laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama juga meningkat 75% menjadi Rp 581,31 miliar. Bambang menambahkan, PTBA akan memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis dan mengoptimalkan peluang pasar domestik maupun ekspor. Perusahaan juga mendorong pengembangan infrastruktur logistik untuk menopang pertumbuhan usaha berkelanjutan. “Hingga ke depan, Perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya. Hingga 30 September 2026, total aset PTBA tercatat Rp 51,55 triliun, meningkat 17,4% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 43,92 triliun. Total liabilitas naik 14,1% menjadi Rp 24,31 triliun, sedangkan ekuitas meningkat 20,4% menjadi Rp 27,24 triliun.
Baca Juga: Yuan China Menguat ke Level Tertinggi dalam 4 Tahun, Dipicu Keputusan The Fed Kas dan setara kas mencapai Rp 4,89 triliun, naik 8,1% dibandingkan akhir 2025. Sementara itu, pinjaman bank meningkat 30,5% menjadi Rp 4,21 triliun, termasuk fasilitas pinjaman
back-to-back yang dijamin dengan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Dari sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi meningkat 5,7% menjadi Rp 4,44 triliun. Adapun kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi naik menjadi Rp 3,50 triliun, terutama dipengaruhi penempatan deposito berjangka terkait DHE. Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan turun menjadi Rp 700 miliar, antara lain karena pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Untuk 2026, PTBA menetapkan target produksi sebesar 49,55 juta ton, penjualan 49,51 juta ton, dan angkutan 41 juta ton. Perusahaan juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 3,64 triliun dengan target
stripping ratio 5,63 kali.
Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan, perusahaan juga mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara. “Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan,” ujar Eko. Ia berharap berbagai langkah tersebut dapat memperkuat daya saing perusahaan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News