Laba CIMB Niaga 2016 melonjak 368%



JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan perolehan laba bersih konsolidasi Rp 2,08 triliun pada akhir 2016. Dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Senin (20/2), manajemen CIMB NIaga menyebutkan, laba bersih 2016 melonjak sebesar 368,4% secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan laba bersih didukung oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang meningkat 6,2%. Selain itu, CIMB Niaga juga mencatatkan penurunan pada biaya pencadangan sebesar 7,2% yoy.

“Kami secara konsisten mampu mencatatkan pendapatan yang positif dan meningkat sebagaimana terlihat dari kenaikan NII dan NoII, cost to income ratio juga membaik berada di bawah level 49%, didukung oleh pengetatan biaya operasional dan peningkatan produktivitas,” ujar Presiden Direktur CIMB Niaga, Tigor M. Siahaan, Senin (20/2).


Sementara itu, total aset perseroan mencapai Rp 241,57 triliun per 31 Desember 2016, tumbuh tipis sebesar 1,1% secara yoy. Lalu, jumlah kredit yang disalurkan juga naik tipis 1,6% yoy menjadi Rp 180,16 triliun per 31 Desember 2016.

Dari total penyaluran kredit tersebut, kredit konsumer tercatatkan mencapai Rp 51,42 triliun atau 29% dari total kredit. Diikuti kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencapai Rp 34,51 triliun atau 19% dari kredit. Adapun, sisanya berasal dari wholesale banking, yang terdiri dari kredit korporasi sebesar Rp 61,01 triliun (34%) serta kredit komersial sebesar Rp 33,22 triliun (18%).

Sementara, total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 180,57 triliun, meningkat 1,1% yoy per 31 Desember 2016. Capaian ini didorong oleh pertumbuhan CASA sebesar 9,9%, menghasilkan kenaikan rasio CASA sebesar 403 basis point (bps) menjadi 50,84% secara tahunan.

Loan to Deposit Ratio (LDR) CIMB Niaga tercatat sebesar 98,38% per akhir Desember 2016, turun dibandingkan posisi 97,98% pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) bank berkode emiten BNGA ini tercatat sebesar 17,96% per 31 Desember 2016, meningkat 168 bps yoy dari periode yang sama tahun lalu.

“Ke depan, kami akan fokus meningkatkan CASA, sekaligus mengelola struktur biaya dan meningkatkan produktivitas. Penekanan pada bisnis konsumer dan SME menjadi kunci utama dalam strategi pertumbuhan kami,” ungkap Tigor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini