KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (
CMRY) diperkirakan masih memiliki prospek pertumbuhan yang menarik di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku dan pelemahan rupiah. Analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla dan Reinard Tanukusuma mengatakan, target CMRY menggandakan pendapatan dalam lima tahun ke depan masih realistis. Menurut Raja dan Reinard, pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi kanal distribusi melalui perluasan dua kali lipat gerai di seluruh saluran
general trade (GT) dan Miss Cimory (MCM), sehingga dapat mendorong pertumbuhan volume secara independen dari pertumbuhan kategori.
Baca Juga: Loyo, Rupiah Kembali Ditutup Melemah ke Rp 17.794 Per Dolar AS Hari Ini (18/6) Selain itu, produktivitas penjualan per gerai juga meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Penjualan per outlet tercatat naik 26% di saluran GT dan melonjak 180% di MCM, ditopang eksekusi distribusi yang lebih tajam dan perluasan SKU produk. "Kami memperkirakan
compound annual growth rate (CAGR) atau rata-rata pertumbuhan tahunan majemuk laba CMRY pada 2025–2028 sebesar 15%, jauh di atas rata-rata emiten
consumer staples sekitar 10%," tulis Raja dan Reinard dalam risetnya, beberapa waktu lalu. Kinerja CMRY pada kuartal I-2026 juga dinilai solid. Pendapatan perseroan mencapai Rp 3,16 triliun atau tumbuh 27,87% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 2,43 triliun. Segmen
dairy products tumbuh paling tinggi, yakni 51,8% YoY menjadi Rp 1,31 triliun. Sementara itu, segmen
consumer food meningkat 14,8% YoY menjadi Rp 1,81 triliun. Analis Ina Sekuritas, Rifdah Fatin Hasanah menilai pertumbuhan tersebut didukung pemulihan permintaan konsumen, monetisasi kanal distribusi, serta kontribusi produk baru. Namun, margin CMRY masih menghadapi tekanan akibat kenaikan harga
whole milk powder (WMP), daging sapi, unggas, hingga bahan kemasan, bersamaan dengan depresiasi rupiah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Baca Juga: Bumi Serpong Damai (BSDE) Absen Bagi Dividen Tahun 2025, Ini Alasannya Alhasil, margin laba kotor atau
gross profit margin (GPM) CMRY turun menjadi 43% pada kuartal I 2026, dari 45% pada periode yang sama tahun lalu. "Namun, kenaikan harga WMP tetap relatif lebih rendah dibandingkan lonjakan selama periode konflik Rusia-Ukraina," ujar Rifdah dalam risetnya, beberapa waktu lalu. Meski margin tertekan, laba bersih CMRY tetap tumbuh 15,65% YoY menjadi Rp 555 miliar dari sebelumnya Rp 479,86 miliar. Kedua sekuritas menilai tekanan margin masih dapat dikelola melalui efisiensi biaya pemasaran dan promosi, serta pertumbuhan volume penjualan yang tetap kuat. Raja dan Reinard menjelaskan adanya potensi perbaikan margin operasional seiring menurunnya rasio
advertising and promotion terhadap penjualan. Hal tersebut didorong semakin kuatnya
brand awareness produk Cimory di pasar. Selain itu, ekspansi kanal distribusi dinilai masih menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang. Perseroan menargetkan perluasan
outlet general trade hingga sekitar 400.000 outlet dan agen Miss Cimory mencapai 18.000–20.000 dalam lima tahun mendatang.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko seperti pelemahan daya beli masyarakat, fluktuasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan baku global, hingga meningkatnya persaingan industri
dairy dan
consumer food. Raja dan Reinard mempertahankan rekomendasi
buy untuk CMRY dengan target harga Rp 6.600 per saham, naik dari sebelumnya Rp 6.200, seiring prospek ekspansi margin dan pertumbuhan laba yang dinilai lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, Rifdah juga mempertahankan rekomendasi
buy dengan target harga Rp 6.850 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News