KONTAN.CO.ID - DBS Group, bank terbesar di Singapura, memperingatkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat tingginya harga energi, kenaikan suku bunga, dan risiko geopolitik. Kondisi pasar yang bergejolak turut menekan kinerja perseroan setelah pendapatan dari aktivitas perdagangan pasar keuangan merosot tajam pada kuartal III-2026. Melansir
Reuters, DBS melaporkan laba bersih sebesar S$ 2,81 miliar pada periode Juli-September 2026. Angka tersebut turun 5% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar S$ 2,96 miliar.
Baca Juga: Laba Bisnis Baru Prudential Naik 1% pada Kuartal III-2026, Hong Kong Jadi Penopang Realisasi laba tersebut juga berada di bawah ekspektasi analis. Berdasarkan data LSEG, rata-rata proyeksi empat analis memperkirakan laba bersih DBS mencapai S$ 2,90 miliar. Penurunan terutama disebabkan oleh merosotnya pendapatan perdagangan pasar keuangan atau
markets trading income. Pendapatan dari segmen tersebut anjlok 65% secara tahunan menjadi S$ 152 juta pada kuartal III-2026. DBS mengaitkan penurunan tersebut dengan kondisi pasar saham yang kurang menguntungkan. Di sisi lain, margin bunga bersih atau
net interest margin (NIM), salah satu indikator utama profitabilitas perbankan, turun 9 basis poin secara tahunan menjadi 1,87%. Tekanan terhadap kinerja DBS mencerminkan dampak kenaikan imbal hasil obligasi global, koreksi saham-saham teknologi yang sebelumnya mencatatkan kenaikan tinggi, serta konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Kondisi tersebut mulai membebani pendapatan perbankan Singapura setelah pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan atau
wealth management menjadi penopang laba pada paruh pertama tahun ini. Saham DBS yang telah menguat 24% sepanjang tahun berjalan terkoreksi lebih dari 2% menjadi S$ 69,27 pada awal perdagangan Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Bursa Australia Melonjak 1,8%, Tertinggi Sejak Juni Usai Demokrat Menang Pemilu AS Analis J.P. Morgan memperkirakan saham DBS berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek setelah publikasi kinerja tersebut. Mereka juga memperkirakan analis pasar akan sedikit memangkas proyeksi pendapatan DBS karena kuartal IV secara musiman cenderung menjadi periode yang lebih lemah bagi bisnis pengelolaan kekayaan. Prospek 2027 Lebih Tidak Pasti Chief Executive Officer DBS Tan Su Shan mengatakan, meskipun perekonomian global masih menunjukkan ketahanan, prospek ke depan semakin tidak pasti. Memasuki 2027, DBS akan tetap fleksibel dalam menangkap peluang bisnis sekaligus mengelola risiko secara hati-hati. Di tengah tekanan pasar, bisnis pengelolaan kekayaan masih mencatatkan pertumbuhan. Pendapatan biaya dari segmen wealth management meningkat 9% secara tahunan menjadi S$ 864 juta pada kuartal III-2026, ditopang pertumbuhan aset kelolaan.
Baca Juga: Bank of England Diperkirakan Naikkan Suku Bunga ke 4%, Pertama dalam Tiga Tahun Pendapatan biaya jasa transaksi juga mencapai rekor tertinggi. Sementara itu, pendapatan biaya terkait pinjaman dan kartu turut meningkat. Secara keseluruhan, pendapatan bersih berbasis komisi atau net fee income naik 6% secara tahunan menjadi S$ 1,43 miliar. Untuk 2027, DBS memperkirakan total pendapatan tumbuh dalam kisaran satu digit menengah atau mid-single digit. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Federal Reserve (The Fed) AS akan kembali menaikkan suku bunga sebanyak dua kali hingga akhir tahun depan, disertai kenaikan bertahap suku bunga domestik dan nilai tukar dolar Singapura.
DBS juga memperkirakan pertumbuhan struktural bisnis pengelolaan kekayaan akan berlanjut. Di luar laporan keuangan, DBS mengumumkan penunjukan anggota dewan Anthony Lim sebagai chairman mulai 1 Januari 2027. Ia akan menggantikan Peter Seah yang mengundurkan diri setelah menjabat selama 16 tahun.
Baca Juga: Singapura Perberat Sanksi Polusi Asap, Denda Harian Capai Rp14,2 Miliar