Laba DEWA Melejit, Bisa Terulang pada 2026? Ini Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan positif berhasil ditorehkan oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sepanjang 2025 lalu. Capaian ini berpotensi terulang pada 2026 seiring tingginya harga batubara di pasar global.

Sebagaimana diketahui, pendapatan DEWA tercatat sebesar Rp 6,39 triliun pada 2025 atau tumbuh 5,97% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 6,03 triliun.


DEWA juga mencatat lonjakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 7.697,71% yoy menjadi Rp 4,31 triliun.

Kenaikan signifikan ini cukup dipengaruhi oleh adanya pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp 3,74 triliun pada 2025. Dalam hal ini, terdapat pengakuan goodwill negatif yang timbul dari akuisisi entitas anak tanpa tambahan kas sebesar Rp 4,54 triliun, seiring akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR) oleh DEWA.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Rabu (8/4), Cermati Saham Rekomendasi Analis

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pendapatan DEWA berpeluang stabil pada 2026 yang ditopang oleh tingginya harga batubara. Sentimen positif ini berdampak pada terjaganya permintaan jasa kontraktor pertambangan yang jadi bisnis inti DEWA.

"Namun, laba bersih akan normalisasi akibat tidak ada one-off income dari goodwill negatif seperti tahun 2025," ujar dia, Selasa (7/4/2026).

Untuk mengoptimalkan potensi kinerja pada tahun ini, DEWA mesti meningkatkan utilisasi armada alat berat sekaligus memperkuat efisiensi konsumsi bahan bakar. Emiten ini juga perlu mengamankan kontrak jangka panjang atau seumur tambang dengan produsen batubara kelas atas.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, perkembangan kinerja kuartalan DEWA sepanjang 2026 patut dicermati oleh investor. Hal ini untuk melihat kemampuan DEWA dalam menghasilkan pertumbuhan kinerja bottom line secara organik, setelah pada tahun lalu mereka mencetak kenaikan laba akibat faktor non-operasional.

Kenaikan harga batubara di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi kelangsungan usaha jasa kontraktor pertambangan DEWA. "Tambang KPC (Kaltim Prima Coal) masih akan menjadi motor penggerak bagi DEWA pada tahun ini," terang Nafan, Selasa (7/4/2026).

 
DEWA Chart by TradingView

Di samping itu, DEWA juga punya modal berharga dalam menyongsong tahun 2026, yakni kemampuan dalam mendiversifikasi portofolio bisnis di luar segmen batubara. DEWA melalui anak usahanya PT Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN) telah menguasai 99,75% saham GMR sejak November 2025. GMR sendiri sedang mengembangkan tambang emas dan tembaga.

Wafi menilai, masuknya DEWA ke sektor pertambangan mineral akan berdampak positif secara jangka panjang lantaran dapat mengurangi ketergantungan terhadap batubara termal. Risiko yang harus diwaspadai DEWA yakni kebutuhan capital expenditure (capex) yang tinggi ketika fase eksplorasi atau pengembangan dan eksekusi proyek.

Lantas, Wafi merekomendasikan beli saham DEWA dengan target harga di level Rp 600 per saham.

Di lain pihak, Nafan menyarankan investor untuk add saham DEWA dengan target harga di level Rp 675 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News