Laba dua multifinance tumbuh di atas 50%



JAKARTA. Perusahaan multifinance yang fokus pada pembiayaan konsumen menikmati kenaikan laba tinggi. BII Finance (BII Finance) dan Mandiri Tunas Finance (MTF) misalnya, membukukan pertumbuhan laba kuartal III-2012 lebih dari 50%.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, BII Finance meraih pertumbuhan laba hingga 139%, dari Rp 46 miliar pada kuartal III-2011 menjadi Rp 110 miliar pada kuartal III-2012. Keuntungan ditunjang pendapatan yang naik 71% dari Rp 254,8 miliar menjadi Rp 435,6 miliar.

BII FInance meningkatkan penjualan volume pembiayaan serta diversifikasi produk ke alat berat. "Di 9 bulan ini, kontribusi pembiayaan alat berat mulai terasa ke sisi pendapatan. Bahkan pertumbuhannya lebih besar dibandingkan konsumen," kata Alexander, Presiden Direktur BII Finance Jumat (2/11).


Nilai pendapatan dari sewa pembiayaan terlihat lebih tinggi ketimbang pembiayaan konsumen. BII Finance mencatat, pemasukan dari sewa pembiayaan sebesar Rp 523,4 miliar, tumbuh 156%.  Sedangkan pembiayaan konsumen hanya menghasilkan Rp 430,6 miliar, tumbuh 70%.

Total nilai pembiayaan BII Finance mencapai Rp 3,02 triliun naik 15% dari Rp 2,6 triliun. Di awal tahun, pembiayaan alat berat memang tinggi. Karena saat itu harga komoditas masih bagus dan harga bahan bakar minyak (BBM) belum diisukan naik. "Sehingga debitur membeli alat berat untuk investasi," katanya. Sedangkan pembiayaan konsumen, khususnya mobil, terbantu oleh peluncuran produk-produk baru.

Sementara Mandiri Tunas Finance (MTF) mencetak kenaikan laba 76% menjadi Rp 81,8 miliar. Laba ditunjang kenaikan pendapatan sebesar 25% menjadi Rp 605,6 miliar. Pendapatan dari sisi pembiayaan konsumen meningkat 15% menjadi Rp 458,1 miliar.

Anton Herdianto, Direktur Keuangan MTF, optimistis perolehan laba sampai akhir tahun ini  sesuai target. Meski begitu, perseroan mulai mengantisipasi terjadinya penurunan nilai pembiayaan jelang tutup tahun. Pasalnya jam kerja di akhir tahun lebih singkat, sehingga mempengaruhi volume nilai pembiayaan baru yang diberikan.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah harga komoditas yang fluktuatif. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat, terutama untuk kendaraan produktif. "Terakhir yang paling berpengaruh dampak bisnis akibat penetapan uang muka (DP) serta fidusia," kata Anton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Edy Can