KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Eagle High Plantations Tbk (
BWPT) mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada semester I-2026 dengan perolehan pendapatan sebesar Rp 3,26 triliun. Angka ini meningkat 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 2,77 triliun. Laba periode berjalan juga meningkat menjadi Rp 215 miliar atau tumbuh 16% (yoy) dari Rp 185,14 miliar, yang didukung oleh peningkatan kinerja operasional, disiplin pengelolaan biaya, serta optimalisasi bisnis yang dijalankan secara konsisten. BWPT juga telah melunasi pokok dan bagi hasil Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 Seri A secara penuh dan tepat waktu menggunakan kas internal.
Dengan demikian, seluruh kewajiban atas instrumen sukuk telah berakhir dan perusahaan tidak memiliki surat utang yang jatuh tempo pada semester II 2026.
Baca Juga: JLL: Ekspansi Perusahaan Tiongkok Beri Dampak Besar bagi Sektor Real Estat Komersial Direktur Utama BWPT, Henderi Djunaidi, mengatakan bahwa pencapaian tersebut merupakan bagian dari strategi dalam membangun perusahaan yang semakin tangguh dari sisi operasional, keuangan, maupun keberlanjutan. “Kami meyakini bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui fondasi keuangan yang kuat, operasional yang semakin efisien, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Pelunasan sukuk ini menjadi salah satu bukti komitmen Perseroan dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan seluruh agenda strategis perusahaan tetap berjalan sesuai rencana,” ungkap Henderi, dalam siaran pers, Kamis (30/7/2026).
BWPT juga terus menjalankan transformasi melalui tiga fokus utama, yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, memperkuat fondasi keuangan, serta mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi bisnis.
Fokus tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif untuk meningkatkan nilai tambah usaha, memperkuat ketahanan operasional, menjaga disiplin biaya, serta memenuhi standar keberlanjutan dan kepatuhan terhadap regulasi global. Di sisi operasional, BWPT terus memperluas kapasitas pengolahan melalui penyelesaian
mill extension dan pembangunan Kernel Crushing Plant (KCP) yang akan menambah lini bisnis baru sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit.
Perusahaan juga mengembangkan Biogas Power Plant di Kalimantan Tengah sebagai bagian dari optimalisasi pemanfaatan limbah menjadi energi terbarukan.
Selain itu, berbagai program strategis seperti new planting, pengembangan kemitraan Plasma Mandiri, persiapan replanting, serta implementasi sistem digital dan mekanisasi terus dijalankan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional. Komitmen terhadap keberlanjutan juga terus diperkuat. Hingga saat ini, BWPT telah memperoleh sertifikasi RSPO, ISPO, dan EUDR sebagai wujud penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab sesuai standar nasional maupun internasional.
Di pasar modal, BWPT juga dipercaya menjadi konstituen Indeks SRI-KEHATI, ESGSKEHATI, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).
Baca Juga: Banyak Model Baru, VinFast Optimistis Penjualan Mobil Listrik Melaju di Semester II Kinerja tersebut turut mendapat pengakuan melalui peringkat ke-3 perusahaan kelapa sawit terbaik di Indonesia dan peringkat ke-18 dunia berdasarkan penilaian SPOTT, perolehan CDP Rating B, serta pemeringkatan idA dari Kredit Rating Indonesia (KRI) dan idA- dari PEFINDO.
Sementara itu, fasilitas Biogas Sukadamai di Kalimantan Selatan telah tercatat di IDX Carbon, mencerminkan kontribusi Perseroan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Menurut Henderi, seluruh pencapaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi yang dijalankan Perseroan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kinerja saat ini, tetapi juga pada penciptaan nilai jangka panjang. "Berbekal fondasi tersebut, BWPT optimistis dapat terus memperkuat daya saing, menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, serta memberikan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News