Laba Emiten Jadi Cakupan Maybank Sekuritas Mulai Melambat, Sektor Ini Paling Moncer



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten yang menjadi cakupan Maybank Sekuritas Indonesia pada semester I-2026 menunjukkan hasil yang beragam. Di tengah pelemahan momentum laba pada kuartal II-2026, sektor telekomunikasi justru tampil sebagai salah satu titik terang berkat peningkatan monetisasi layanan seluler.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Jeffrosenberg Chenlim dalam riset 9 Agustus 2026 mengatakan, dari 66 perusahaan yang masuk dalam cakupan risetnya, sebanyak 48 perusahaan atau 73% telah melaporkan kinerja semester I-2026.

"Dari 48 perusahaan yang telah melaporkan hasil, tujuh perusahaan melampaui ekspektasi kami, 29 sesuai ekspektasi, dan 12 berada di bawah ekspektasi," kata Jeffrosenberg dalam risetnya.


Baca Juga: Nextier Datamate Lepas 52,93 Juta Saham NExAI (MGLV) di Rp 7.000, Harga Tetap Naik

Tujuh emiten yang mencatatkan kinerja di atas ekspektasi Maybank Sekuritas adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Sementara itu, 29 perusahaan membukukan kinerja sesuai ekspektasi, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGEO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Master Print Tbk (MSTI).

Adapun 12 emiten yang kinerjanya berada di bawah ekspektasi antara lain PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).

Secara agregat, pendapatan emiten dalam cakupan Maybank Sekuritas tumbuh 9,3% secara tahunan pada semester I-2026, sedangkan laba inti meningkat 14,5%. Namun, momentum tersebut mulai melemah pada kuartal II-2026.

Laba inti pada kuartal II-2026 turun 6,9% secara kuartalan meskipun pendapatan masih tumbuh 3,1%. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap profitabilitas mulai meningkat di sejumlah sektor.

Hadapi tekanan daya beli

Sektor konsumsi menunjukkan kinerja yang beragam. Pada segmen consumer discretionary, empat perusahaan mencatatkan kinerja sesuai ekspektasi, sementara RALS dan LPPF berada di bawah perkiraan.

Baca Juga: Usai Rights Issue, Singaraja (SINI) Kucurkan Pinjaman Rp 1,18 Triliun ke Anak Usaha

Pada semester I-2026, laba ACES tumbuh 33% secara tahunan, MAPI naik 26%, MDIY meningkat 17%, AMRT tumbuh 8%, dan LPPF naik 8%. Sebaliknya, laba RALS turun 11%.

Menurut Jeffrosenberg, pelemahan penjualan di RALS dan LPPF, pertumbuhan AMRT yang melambat, serta same-store sales MDIY yang masih negatif mengindikasikan permintaan dari segmen pasar massal masih lemah.

"Permintaan dari konsumen kelas menengah ke bawah masih lemah. Sementara itu, penjualan di toko-toko khusus serta dari konsumen berpendapatan menengah hingga atas masih relatif lebih kuat," jelasnya.

Kinerja consumer staples juga tidak seragam. GGRM menjadi salah satu emiten yang melampaui ekspektasi, sedangkan KLBF dan ROTI mencatatkan kinerja di bawah perkiraan.

Pada semester I-2026, laba GGRM melonjak 2.422% secara tahunan, HMSP tumbuh 97%, MYOR naik 50%, dan KEJU meningkat 15%. Sementara itu, laba ICBP relatif datar.

Di sisi lain, laba KLBF turun 3%, UNVR turun 13%, INDF merosot 19%, dan ROTI anjlok 94%.

Jeffrosenberg menilai pertumbuhan penjualan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kinerja emiten konsumsi. Kemampuan menaikkan harga, dampak cukai, pengendalian biaya serta pengelolaan margin justru menjadi faktor yang lebih menentukan pergerakan laba.

Telekomunikasi jadi sektor paling menonjol

Berbeda dengan sektor konsumsi, sektor telekomunikasi menjadi titik terang dalam kinerja semester I-2026. TLKM dan ISAT berhasil melampaui ekspektasi Maybank Sekuritas, sementara MTEL dan TOWR membukukan kinerja sesuai perkiraan.

Dari sisi laba, ISAT mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 85% secara tahunan pada semester I-2026. Laba TOWR tumbuh 12% dan MTEL naik 2%. Sementara laba TLKM turun 3%.

Jeffrosenberg mengatakan, tren utama yang menopang sektor telekomunikasi adalah membaiknya monetisasi layanan seluler.

Pada TLKM, pendapatan dan EBITDA masing-masing tumbuh 4%. Kinerja tersebut ditopang kenaikan average revenue per user (ARPU) Telkomsel sebesar 12% serta peningkatan data yield sebesar 17%, meskipun jumlah pelanggan dan trafik data mengalami penurunan.

ISAT mencatat pertumbuhan yang lebih kuat. Pendapatan naik 13%, pendapatan data seluler tumbuh 14%, sedangkan trafik meningkat 20%.

Baca Juga: Harga Ayam Turun, Indo Premier Yakin Kinerja Japfa (JPFA) Pulih di Semester II

Namun, laba yang dilaporkan ISAT turut ditopang keuntungan dari penjualan aset fiber senilai Rp1,5 triliun. Jika faktor tersebut dikeluarkan, laba inti ISAT masih mampu tumbuh 41%.

Sementara itu, MTEL dan TOWR mempertahankan kinerja yang relatif stabil berkat ekspansi jaringan, pertumbuhan pendapatan jasa, serta pengendalian biaya.

"Secara keseluruhan, ARPU yang lebih kuat, monetisasi data dan disiplin biaya menopang sektor telekomunikasi, dengan ISAT menawarkan profil pertumbuhan paling kuat," ujar Jeffrosenberg.

Emiten tambang dibayangi tantangan operasional

Sektor pertambangan juga menunjukkan hasil yang beragam. BRMS dan UNTR membukukan kinerja di bawah ekspektasi, sementara INCO relatif sesuai dengan perkiraan.

Laba INCO pada semester I-2026 melonjak 313% secara tahunan. Namun, kenaikan tersebut terutama berasal dari basis yang rendah pada periode sebelumnya. Kinerja INCO didukung peningkatan tajam penjualan bijih nikel.

Meski demikian, harga realisasi bijih nikel yang lebih rendah dari perkiraan membuat laba INCO sedikit berada di bawah proyeksi Maybank Sekuritas.

BRMS menghadapi tekanan berbeda. Laba perusahaan turun 44% akibat penurunan volume penjualan emas sebesar 46% dan pelemahan kadar emas yang ditambang. Kondisi tersebut lebih dari mengimbangi kenaikan harga realisasi emas sebesar 44%.

Sementara itu, laba berulang UNTR turun 48%. Penurunan tersebut mencerminkan pelemahan penjualan alat berat Komatsu, penurunan volume batu bara, serta kontribusi bisnis tambang emas yang lebih rendah.

Laba bersih UNTR bahkan anjlok 88% setelah perusahaan membukukan impairment terkait bisnis panas bumi sebesar Rp2,76 triliun.

Jeffrosenberg menilai eksekusi operasional dan kemampuan memenuhi target volume produksi masih menjadi faktor utama yang membedakan kinerja emiten pertambangan. "Relaksasi RKAB berpotensi memperkuat kinerja INCO pada semester II-2026," kata dia.

Baca Juga: Estika Tata (BEEF) Baru Realisasi 15,77% Target Buyback Saham, Harga Telah Naik 203%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News