KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten sektor rokok menunjukkan tren positif dari sisi profitabilitas sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Tiga emiten rokok, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), sama-sama berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga kuartal III-2026. Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan, laba bersih HMSP tercatat sebesar Rp 6,51 triliun per September 2026. Raihan tersebut meningkat 44,42% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan laba juga dibukukan WIIM. Emiten rokok ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 495,79 miliar, atau tumbuh 73,98% yoy. Sementara itu, GGRM membukukan laba bersih sebesar Rp 4,52 triliun hingga kuartal III-2026. Jumlah tersebut melonjak 308% yoy dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: OJK Rajin Jatuhkan Sanksi, Mengapa Kepercayaan Investor Pasar Modal Belum Pulih? Dari sisi pendapatan, HMSP membukukan penjualan bersih sebesar Rp 87,51 triliun selama Januari-September 2026. Angka ini meningkat 4,5% YoY dibandingkan penjualan bersih sebesar Rp 83,74 triliun pada periode yang sama tahun lalu. WIIM juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,99% YoY menjadi Rp 5,06 triliun hingga akhir September 2026. Berbeda dengan kedua emiten tersebut, GGRM justru mengalami kontraksi pendapatan. Penjualan Gudang Garam tercatat sebesar Rp 61,48 triliun, turun 8,6% dibandingkan periode Januari-September 2025. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama menilai kenaikan kinerja HMSP dan WIIM terutama didukung oleh pertumbuhan pendapatan dari segmen rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM), meskipun faktor pendorong labanya berbeda. Kevin bilang WIIM berhasil memperbaiki margin keuntungan dan menekan beban penjualan, sehingga pertumbuhan labanya juga didukung kinerja operasional yang lebih baik. Sementara itu, kenaikan laba HMSP turut terbantu oleh peningkatan penghasilan lain-lain dan beban pajak yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. "Secara industri, produksi rokok masih menunjukkan pertumbuhan, meskipun persaingan harga dan perubahan pola konsumsi masyarakat tetap menjadi tantangan bagi para emiten," kata Kevin kepada Kontan, Rabu (4/11/2026). Untuk GGRM, penurunan pendapatan terutama berasal dari melemahnya penjualan di segmen rokok SKM dan SKT. Tren konsumen yang beralih ke rokok lebih murah atau downtrading juga berpotensi menjadi tekanan, meskipun dampak langsungnya terhadap GGRM masih perlu dilihat dari data volume dan harga jual. Di sisi lain, laba bersih justru meningkat karena penurunan beban pokok pendapatan, termasuk komponen cukai dan pajak rokok, serta berkurangnya beban operasional dan bunga. Jadi, perbaikan laba GGRM lebih banyak didukung penurunan biaya dibandingkan peningkatan penjualan, sehingga keberlanjutannya masih perlu diperhatikan.
Baca Juga: Dolar AS di Level Terendah Lima Pekan, Rupiah Masih Melemah Simak Proyeksi (5/11) Prospek Emiten Rokok
Kevin melihat prospek emiten rokok hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 masih cukup beragam, dengan peluang pertumbuhan yang berbeda-beda antar emiten. Meskipun keyakinan konsumen masih cukup optimistis, tekanan biaya hidup bisa membuat masyarakat semakin sensitif terhadap harga dan memilih rokok yang lebih murah. Selain itu, peredaran rokok ilegal masih menjadi tantangan karena memperketat persaingan harga dengan produk resmi. Untuk 2027, pemerintah sudah memberikan sinyal tarif cukai tidak akan dinaikkan, tetapi rencana perubahan struktur cukai masih perlu dicermati. Emiten yang mampu menjaga penjualan dan margin keuntungan berpotensi mencatat kinerja lebih baik. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan prospek industri rokok pada kuartal IV-2026 dan sepanjang 2027 masih cenderung moderat dengan tantangan yang relatif besar. Momentum Natal dan Tahun Baru berpotensi memberikan tambahan permintaan, tetapi belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan daya beli masyarakat dan perubahan pola konsumsi. "Emiten juga perlu mengantisipasi risiko kenaikan biaya produksi, kebijakan cukai hasil tembakau, serta persaingan yang semakin ketat di segmen rokok berharga ekonomis," tambah Nafan. Peredaran rokok ilegal juga menjadi tantangan struktural yang serius karena menciptakan persaingan harga yang tidak seimbang bagi produsen legal. Produk ilegal yang tidak menanggung kewajiban cukai sebagaimana mestinya berpotensi mengambil pangsa pasar produsen resmi. Kondisi ini dapat menekan volume penjualan sekaligus membatasi ruang emiten untuk melakukan penyesuaian harga jual. Untuk 2027, lanjut Nafan, prospek industri akan sangat dipengaruhi oleh kepastian kebijakan tarif cukai, efektivitas pemberantasan rokok ilegal, stabilitas daya beli masyarakat, serta kemampuan emiten melakukan inovasi produk. Dengan demikian, Nafan memperkirakan pertumbuhan industri tidak akan merata. Emiten yang memiliki struktur biaya efisien, jaringan distribusi kuat, dan portofolio produk yang sesuai dengan daya beli konsumen akan memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan profitabilitas. Baca Juga:
Cetak Laba Tiga Kuartal Beruntun, GOTO Memperkuat Strategi Pengelolaan Modal Rekomendasi Saham
Kevin juga menerangkan strategi yang berfokus pada penyesuaian produk dengan daya beli masyarakat, perluasan distribusi, serta efisiensi biaya berpotensi mendukung kinerja emiten rokok ke depan.
Dari sisi prospek, WIIM berpeluang mempertahankan pertumbuhan jika penjualan segmen SKM dan perbaikan marginnya berlanjut. HMSP juga berpotensi menjaga kinerja melalui portofolio produk yang beragam dan jaringan distribusi yang luas. Sementara itu, GGRM masih memiliki peluang pemulihan laba, meskipun keberlanjutannya bergantung pada stabilisasi penjualan dan pengendalian biaya. Secara keseluruhan, prospek ketiganya tetap dipengaruhi daya beli, persaingan harga, dan kebijakan cukai. Dari rekomendasi saham, Kevin melihat ada potensi trading buy jangka pendek untuk HMSP dan WIIM, dengan target jangka pendek masing-masing di Rp 670-Rp 680 dan Rp 1.570-Rp 1.600. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News