Laba Fintech Lending Melonjak 71,43% per April 2026, Ini Kata AFPI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba industri fintech peer to peer (P2P) lending meningkat signifikan sebesar 71,43% secara year on year (YoY), menjadi Rp 0,96 triliun atau Rp 960 miliar per April 2026.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melihat peningkatan laba industri merupakan cerminan dari penguatan manajemen risiko dan penyaluran yang makin prudent. Ketua Umum AFPI Entjik Djafar menyampaikan hal itu juga menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan yang bertanggung jawab.

"Melalui penguatan tata kelola, peningkatan perlindungan konsumen, penegakan kepatuhan terhadap regulasi demi ekosistem yang lebih sehat," katanya kepada Kontan, Jumat (12/6).


Ke depannya, Entjik mengatakan pihaknya akan berfokus untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan supaya dapat mendorong stabilitas dan keberlanjutan industri agar makin tumbuh dalam jangka panjang. Dia juga berharap pertumbuhan pada 2026 menjadi lebih berkualitas dan memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional.

Meski demikian, Entjik mengatakan industri tetap mencermati sejumlah tantangan hingga akhir tahun, seperti dinamika geopolitik dan ekonomi.

Oleh karena itu, AFPI mendorong platform anggota untuk terus memperketat credit scoring guna menjaga kualitas pembiayaan atau TWP90 tetap di batas aman. Salah satunya juga melalui penguatan edukasi kepada masyarakat dan adaptasi berkelanjutan terhadap regulasi.

Baca Juga: BI Rate Naik, Bank-Bank KBMI I Terpaksa Menaikkan Bunga Simpanan

"Kami yakin industri dapat memitigasi risiko, sekaligus mempertahankan kinerja yang berkelanjutan," ujar Entjik.

Dari sisi penyelenggara, PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) mengeklaim masih mencapai profitabilitas saat ini. Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan hal itu tak terlepas dari kinerja pembiayaan yang makin bertumbuh.

"Artinya, sumber penghasilan kami itu hanya bersumber dari pencairan dan pengembalian konsumen," ujarnya kepada Kontan.

Untuk meningkatkan laba, Samir menerapkan sejumlah upaya. Handy menerangkan pihaknya akan terus mencari calon lender baru. Sebab, sumber pendanaan berasal dari lender, sehingga harus bekerja sama juga dengan para lender, termasuk perbankan, untuk terus menyediakan pembiayaan kepada borrower.

Selain itu, Samir juga berupaya menjaga kualitas pembiayaan dengan cara menyeleksi peminjam yang memang mampu bayar dan mau membayar pinjaman.

"Artinya, kami menjaga screening di depannya juga baik. Diharapkan, hasilnya juga baik. Konsumen juga benar untuk melakukan pembayaran. Hal itu akan secara otomatis meningkatkan pertumbuhan laba kami," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menjelaskan perolehan laba fintech lending tak terlepas dari sejumlah faktor.

Baca Juga: Meski Bunga Menarik, KB Bank Pastikan Pembelian SRBI Selektif dan Adaptif

"Faktornya adalah pertumbuhan outstanding pembiayaan, serta kemampuan penyelenggara menjaga kualitas portofolio pembiayaan," ucapnya dalam lembar jawaban tertulis OJK.

OJK juga menyampaikan terdapat sejumlah faktor yang bisa memengaruhi kinerja laba industri pada tahun ini, antara lain kualitas pembiayaan dan kemampuan bayar borrower.

Berbeda dengan kondisi pada bulan sebelumnya, perolehan laba industri fintech lending menurun 21,68% secara YoY menjadi sebesar Rp 680 miliar per Maret 2026. Mengenai hal itu, Agusman menjelaskan terdapat sejumlah faktor penyebab laba menurun, yakni dipengaruhi dinamika bisnis penyelenggara.

"Selain itu, adanya perubahan struktur industri, termasuk adanya penyelenggara yang dilakukan pencabutan izin usaha," katanya.

Agusman menambahkan penurunan laba industri tidak semata-mata disebabkan kenaikan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Adapun BOPO fintech lending meningkat dari 77,88% per Maret 2025 menjadi sebesar 86,68% per Maret 2026.

Sebagai informasi, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech lending mencapai Rp 102,07 triliun per April 2026, atau tumbuh sebesar 26,11% secara YoY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News