KONTAN.CO.ID - LONDON. Pemilik maskapai British Airways, International Airlines Group (IAG), membukukan penurunan laba operasional sebesar 16% pada kuartal II 2026. Kinerja perusahaan tertekan oleh lonjakan biaya bahan bakar serta melemahnya permintaan perjalanan akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut juga mendorong IAG memangkas proyeksi kapasitas penerbangan tahun ini menjadi stagnan. "Kenaikan biaya bahan bakar masih menjadi tantangan utama bagi kinerja kami tahun ini."
Baca Juga: Potensi Devisa Pariwisata RI Rp 2 Triliun Melayang Akibat Perang Iran! IAG, yang juga menaungi maskapai Iberia dan Aer Lingus, mencatat laba operasional sebelum pos luar biasa sebesar 1,41 miliar euro pada kuartal II. Angka ini turun dari 1,68 miliar euro pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, realisasi tersebut masih sedikit lebih baik dibandingkan proyeksi analis yang memperkirakan laba sebesar 1,37 miliar euro. Perusahaan menjelaskan seluruh maskapai dalam grupnya mulai merasakan dampak kenaikan harga bahan bakar sejak Maret. Sepanjang kuartal II, biaya bahan bakar dan beban emisi melonjak hampir 23% menjadi 2,22 miliar euro. Untuk sepanjang 2026, IAG memperkirakan total biaya bahan bakar berada di kisaran 8,3 miliar euro hingga 8,6 miliar euro. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan perkiraan sekitar 9 miliar euro yang disampaikan pada Mei lalu. Konflik di Timur Tengah juga mulai menggerus permintaan pada rute transatlantik, yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama IAG. Tekanan tersebut membuat perusahaan sebelumnya telah memberikan peringatan mengenai potensi penurunan laba dan kapasitas penerbangan.
Hingga saat ini, sekitar 57% kapasitas penerbangan untuk paruh kedua tahun ini telah terjual. Nilai pendapatan dari pemesanan tersebut masih sejalan dengan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Korban Tewas Perang Iran Tembus Ribuan, Konflik Meluas di Timur Tengah IAG juga menargetkan dapat mengimbangi sekitar 60% kenaikan biaya bahan bakar melalui penyesuaian harga tiket serta berbagai langkah efisiensi biaya. Tekanan yang dihadapi IAG sejalan dengan kondisi industri penerbangan Eropa. Sebelumnya, Ryanair dan easyJet juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah meningkatkan biaya operasional sekaligus menekan permintaan perjalanan udara.