KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten dari grup Indofood yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) kompak anjlok di semester I-2026. INDF melaporkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 19% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 4,72 triliun dibandingkan Rp 5,84 triliun pada semester I-2025. Sementara laba ICBP anjlok 33% yoy menjadi Rp3,70 triliun dalam periode yang sama. Penurunan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan akibat pelemahan rupiah.
Adapun dari sisi top line, kinerja INDF dan ICBP justru mengalami penguatan, masing-masing 9% yoy dan 11% yoy. Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, Anthoni Salim, menegaskan bahwa perseroan tetap mampu mencatatkan kinerja yang kuat di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Laba INDF Susut 19% Jadi Rp 4,72 Triliun di Semester I, Ini Penjelasan Manajemen "Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan profitabilitas," kata Anthoni, akhir pekan lalu.
Prospek Grup Indofood Analis MNC Sekuritas Catherine Florencia menilai prospek Grup Indofood hingga akhir tahun masih dibayangi sejumlah tantangan, terutama dari sisi profitabilitas. Menurutnya, realisasi kinerja semester I-2026 bahkan masih berada di bawah proyeksi konservatif yang sebelumnya disusun MNC Sekuritas. Kondisi tersebut membuka peluang penurunan kembali proyeksi laba maupun target harga saham kedua emiten. "Proyeksi kami untuk INDF dan ICBP sejak awal memang sudah cukup bearish di awal. Namun realisasi semester I saja masih belum memenuhi ekspektasi tersebut. Artinya, tekanan terhadap kinerja pada semester II-2026 kemungkinan masih akan berlanjut," ujar Catherine. Ia menjelaskan, tekanan utama berasal dari struktur biaya yang semakin berat. Di satu sisi, kenaikan biaya produksi belum sepenuhnya dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.
Baca Juga: Indofood (INDF) Raih Pendapatan Rp 65,53 Triliun pada Semester I-2026 Selain itu, pelemahan rupiah juga memperbesar rugi selisih kurs yang belum terealisasi mengingat INDF dan ICBP masih memiliki obligasi serta beban bunga dalam denominasi dolar AS. Khusus untuk ICBP, Catherine menambahkan, kenaikan harga gandum global juga berpotensi menjadi tantangan tambahan pada kuartal III-2026. "Untuk ICBP, harga gandum kembali meningkat sehingga berpotensi menekan margin bisnis mi instan pada kuartal ketiga," ucapnya.
Secara keseluruhan, Catherine menilai fundamental penjualan kedua emiten masih relatif kuat. Namun, tekanan pada struktur biaya diperkirakan masih akan membatasi pertumbuhan laba hingga akhir tahun. "Jadi INDF maupun ICBP semua masalahnya di cost structure perusahaan. Sementara topline sebenarnya masih relatif solid," ucap Catherine.
Baca Juga: Penjualan Indofood CBP (ICBP) Tumbuh 11% pada Semester I-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News