Laba Indofood CBP (ICBP) Tertekan Rugi Kurs & Biaya Bahan Baku, Saham Disarankan Hold



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih menghadapi tekanan margin di paruh kedua 2026. Pertumbuhan penjualan yang kuat ditopang kenaikan volume, terutama dari bisnis mi, tetapi kemampuan perseroan menaikkan harga masih terbatas di tengah daya beli konsumen yang belum sepenuhnya pulih.

Analis MNC Sekuritas Catherine Florencia M. dalam riset 23 September 2026 menyebut permintaan produk mi ICBP masih cukup kuat, sejalan dengan karakter produknya yang merupakan kebutuhan pokok. Namun, kondisi konsumen yang masih berhati-hati membuat ruang bagi kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) menjadi terbatas.

"Latar belakang konsumen Indonesia masih menantang. Pertumbuhan FMCG terus tertinggal dari pertumbuhan total pengeluaran rumah tangga karena konsumen tetap berhati-hati dan semakin memprioritaskan kategori kebutuhan pokok," tulis Catherine dalam risetnya.


Baca Juga: Rupiah Makin Tertekan, Dibuka Melemah ke Rp 17.935 Per Dolar AS Hari Ini (25/9)

Berdasarkan data Kantar Worldpanel by Numerator, pertumbuhan produk fast-moving consumer goods (FMCG) mencapai 5% secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total pengeluaran rumah tangga sebesar 6%.

Kondisi tersebut dinilai masih mendukung portofolio produk kebutuhan pokok ICBP, terutama mi. Namun, daya beli yang terbatas berpotensi membatasi fleksibilitas perseroan dalam menaikkan harga.

Dari sisi biaya, tekanan juga belum sepenuhnya mereda. Harga gandum berada di level US$ 714 per bushel pada 18 September 2026, naik 26,5% sejak awal tahun. Meski telah turun dari level tertingginya dalam 3,5 tahun sebesar US$ 787 per bushel pada 28 Agustus 2026, harga gandum masih berada di level tinggi.

Harga crude palm oil (CPO) juga tercatat MYR 4.898 per ton, naik 10,7% YoY dan 20,9% sejak awal tahun. Kondisi ini membuat biaya input yang berkaitan dengan minyak goreng masih relatif tinggi.

Di sisi lain, rupiah mulai memberikan sedikit ruang. Nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp 17.742 per dolar AS pada 18 September 2026, menguat sekitar 2,5% dari level terlemah tahun ini di Rp 18.190 per dolar AS pada 8 Juni 2026.

Menurut Catherine, kombinasi tersebut menghasilkan kondisi yang beragam bagi ICBP pada semester II-2026.

"Rupiah yang lebih stabil seharusnya mengurangi volatilitas laba terkait valuta asing, sementara harga gandum dan CPO yang masih tinggi dapat secara bertahap mengalir ke beban pokok penjualan," jelasnya.

ICBP membukukan pendapatan Rp 41,9 triliun pada semester I-2026, tumbuh 11,3% YoY. Realisasi tersebut telah mencapai 53,4% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan bahkan melampaui panduan manajemen yang memperkirakan pertumbuhan pendapatan sekitar 5%-7%.

Baca Juga: RUU Reforma Agraria Disahkan, AALI hingga TAPG Hadapi Risiko Pembatasan Lahan

Laba kotor naik 9,5% YoY menjadi Rp14,4 triliun, sedangkan laba operasi meningkat 8% YoY menjadi Rp9,2 triliun.

Namun, pertumbuhan laba tersebut masih dibayangi penyusutan margin. Gross profit margin (GPM) turun menjadi 34,3%dari 34,9% pada semester I-2025. Operating profit margin (OPM) juga menyempit menjadi 21,9% dari 22,5%.

Pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari kenaikan volume penjualan. Volume penjualan mi meningkat 5% YoY, terdiri dari pertumbuhan 2% di pasar domestik dan 13% di pasar luar negeri.

Pertumbuhan volume juga terjadi pada sejumlah segmen lain. Penjualan dairy tumbuh 16%, makanan ringan 6%, bumbu makanan 6%, nutrition & special foods 10%, serta beverages 5%.

MNC Sekuritas melihat ruang pertumbuhan volume masih terbuka seiring ekspansi kapasitas produksi ICBP.

Pabrik mi baru ICBP di Bogor yang selesai pada akhir 2025 menambah kapasitas sekitar 1,5 miliar bungkus per tahun. Belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 juga masih diarahkan untuk ekspansi bisnis mi, dairy dan bumbu makanan.

Ekspansi tersebut diperkirakan mendukung pertumbuhan volume, terutama untuk bisnis mi di luar negeri dan dairy, meskipun kenaikan harga jual secara luas masih terbatas.

Laba bersih anjlok akibat rugi kurs

Di tengah kinerja operasional yang cukup kuat, laba bersih ICBP justru turun 33,1% YoY menjadi Rp 3,7 triliun pada semester I-2026. Realisasi tersebut baru mencapai 39,1% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk sepanjang 2026.

Net profit margin (NPM) juga turun menjadi 8,8% dari 14,7% pada semester I-2025.

Namun, jika mengecualikan dampak tertentu, laba inti atau core profit ICBP relatif stabil di Rp 5,4 triliun, hanya tumbuh 0,7% YoY.

Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (25/9): Ambles RP 15.000 Jadi Rp 2.590.000 Per Gram

Tekanan terbesar berasal dari lonjakan beban keuangan yang mencapai Rp 4,1 triliun, melonjak 215,9% YoY.

Kenaikan tersebut terutama berasal dari rugi kurs bersih atas aktivitas pendanaan sebesar Rp 2,95 triliun, dibandingkan Rp 227,3 miliar pada semester I-2025.

Kondisi ini berkaitan dengan tingginya eksposur ICBP terhadap obligasi berdenominasi dolar AS senilai US$ 2,75 miliar.

MNC Sekuritas tidak melakukan annualisasi atas kerugian kurs semester I-2026 ke semester II-2026. Pasalnya, rupiah telah menguat dari level terlemahnya pada Juni dan kondisi nilai tukar diperkirakan lebih stabil pada paruh kedua tahun ini.

Meski begitu, MNC Sekuritas memangkas proyeksi laba bersih ICBP untuk 2026 dan 2027.

Proyeksi pendapatan 2026 dinaikkan menjadi Rp 80,1 triliun dari sebelumnya Rp 78,5 triliun. Untuk 2027, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 84,6 triliun, naik dari estimasi sebelumnya Rp 82,3 triliun.

Kenaikan proyeksi pendapatan tersebut mencerminkan momentum mi di pasar luar negeri yang lebih kuat, pertumbuhan volume di seluruh segmen, tambahan kapasitas produksi serta kinerja bisnis dairy yang solid.

Sebaliknya, proyeksi laba bersih 2026 dipangkas menjadi Rp 8,3 triliun dari Rp 9,5 triliun. Untuk 2027, proyeksi laba bersih diturunkan menjadi Rp 9,7 triliun dari Rp 10,1 triliun.

Catherine mengatakan, meski kerugian kurs diperkirakan berkurang pada semester II-2026 seiring stabilnya rupiah, kekurangan laba pada semester I tidak diperkirakan dapat sepenuhnya dipulihkan hingga akhir tahun.

Tekanan biaya juga masih terlihat. Bogasari tercatat telah menaikkan harga tepung sekitar 2% pada Mei 2026, 1%-2% pada Juli 2026, dan kembali sekitar 2% dalam kenaikan terbaru.

Menurut MNC Sekuritas, hal tersebut menunjukkan kenaikan harga gandum dan dampak nilai tukar mulai diteruskan ke harga tepung domestik.

Selain bahan baku, biaya kemasan, pengiriman, energi dan distribusi juga masih menjadi risiko terhadap margin.

Baca Juga: Bursa Asia Bervariasi di Pagi Ini (25/9), Pasar Cermati Aksi Jual Obligasi Global

"Dengan belanja konsumen yang masih rapuh dan kenaikan harga secara luas yang sejauh ini terbatas, ruang untuk kenaikan ASP secara agresif masih kecil tanpa berisiko menurunkan volume atau mengubah bauran produk," tulis Catherine.

Karena itu, MNC Sekuritas memperkirakan pertumbuhan pendapatan ICBP yang lebih kuat hanya akan diterjemahkan sebagian ke dalam pemulihan laba bersih.

MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham ICBP dengan target harga Rp 7.500 per saham. Target tersebut mencerminkan valuasi sekitar 10,5 kali price to earnings (PE) dan 1,1 kali price to book value (PBV) untuk proyeksi 2026.

Namun Catherine memparkan sejumlah risiko yang perlu dicermati meliputi pelemahan daya beli domestik, pelemahan rupiah kembali, kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik, gangguan geopolitik berkepanjangan, serta keterbatasan kemampuan perseroan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen tanpa mengorbankan volume maupun bauran produk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News