Laba Industri China Melambat, Ketimpangan Ekonomi Makin Terlihat



KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan laba perusahaan industri China kembali melambat pada Agustus 2026. Kondisi ini menunjukkan tekanan permintaan domestik masih membebani dunia usaha, meski sektor manufaktur teknologi mendapat dorongan dari booming kecerdasan buatan (AI).

Melansir Reuters, berdasarkan data Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Senin (28/9/2026), laba perusahaan industri China pada Agustus tumbuh 4,2% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melambat tajam dibandingkan Juli yang mencapai 11,2%.

Baca Juga: Lewati Bos Facebook, Harta Kekakayaan Pengusaha Komputer Ini Terbanyak Keempat Dunia


Secara kumulatif, laba industri selama Januari-Agustus 2026 masih tumbuh 15,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut juga melambat dari pertumbuhan 17,6% pada Januari-Juli.

Perlambatan terjadi ketika perusahaan menghadapi tekanan untuk mempertahankan daya tawar harga akibat lemahnya konsumsi domestik dan kelebihan kapasitas di sejumlah sektor.

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan manufaktur China semakin mengandalkan pasar luar negeri untuk memperoleh margin keuntungan yang lebih baik.

Pergeseran ini berpotensi meningkatkan ketergantungan China terhadap ekspor ketika negara tersebut menghadapi ketegangan geopolitik dan sorotan yang semakin besar terhadap surplus perdagangannya.

Data NBS menunjukkan sektor manufaktur komputer, komunikasi, serta peralatan elektronik lainnya menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan laba.

Laba sektor tersebut melonjak 110% selama delapan bulan pertama 2026, sejalan dengan kuatnya permintaan terkait teknologi dan AI.

Sebaliknya, kinerja sejumlah sektor berbasis konsumsi masih tertekan. Laba industri minuman anggur, minuman lainnya, dan pengolahan teh tercatat anjlok 34,7% dalam periode yang sama.

Baca Juga: Waspada Ancaman Houthi, Sekolah Di Riyadh Berlangsung Online Pekan Ini

Tekanan tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan dalam pemulihan sektor industri China. Investasi dan produksi di sektor teknologi berkembang pesat, sementara konsumsi domestik belum mampu memberikan dorongan yang sebanding terhadap permintaan.

Awal September lalu, seorang penasihat bank sentral China memperingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi memperburuk sekaligus memperpanjang ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah di ekonomi China.

Kondisi tersebut kembali memperkuat seruan agar pemerintah mengambil langkah untuk mendorong konsumsi rumah tangga sekaligus memperkuat neraca keuangan di berbagai sektor ekonomi.

Data laba industri China mencakup perusahaan dengan pendapatan tahunan dari kegiatan usaha utama sedikitnya 20 juta yuan atau sekitar US$2,98 juta.

Dengan demikian, perlambatan pertumbuhan laba pada Agustus menjadi sinyal bahwa pemulihan sektor industri China masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan, meski sejumlah industri teknologi menikmati momentum kuat dari investasi AI.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 1,5%, Pasar Antisipasi The Fed Naikkan Suku Bunga