KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan laba perusahaan industri di China masih mencatat kenaikan pada Juni 2026, namun lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih belum merata, dengan ekspor tetap menjadi penopang utama di tengah lemahnya permintaan domestik.
Baca Juga: Bursa Australia Melonjak Hampir 1% Senin (27/7) Pagi, Ketegangan Timur Tengah Mereda Melansir
Reuters, data National Bureau of Statistics (NBS) yang dirilis Senin (27/7/2026) menunjukkan, laba perusahaan industri tumbuh 15,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juni, melambat dari pertumbuhan 21,1% pada Mei. Secara kumulatif, laba industri pada semester pertama 2026 meningkat 18,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 18,8% yang tercatat pada periode Januari-Mei. Data tersebut menambah bukti bahwa pemulihan ekonomi China masih berlangsung dalam dua kecepatan (
two-speed recovery). Sektor manufaktur yang berorientasi ekspor masih menikmati permintaan luar negeri yang kuat, sementara sektor yang bergantung pada konsumsi domestik masih menghadapi tekanan. Ekspor dan produksi industri sejauh ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Sebaliknya, lemahnya konsumsi rumah tangga dan berlanjutnya krisis di sektor properti membuat pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II-2026 melambat ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun. Kondisi ini kembali memunculkan harapan agar pemerintah memberikan dukungan kebijakan tambahan untuk mengatasi ketidakseimbangan ekonomi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 5% Senin (27/7) Pagi, AS dan Iran Hentikan Perang Sementara Laba industri otomotif merosot Tekanan di pasar domestik juga terlihat dari kinerja industri otomotif. Data NBS menunjukkan, laba perusahaan manufaktur otomotif turun 19,5% pada semester pertama tahun ini, seiring penjualan mobil yang kembali menurun pada Juni. Penurunan tersebut menjadi yang kesembilan bulan berturut-turut. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemulihan konsumsi masyarakat China masih belum cukup kuat untuk mendorong permintaan barang-barang bernilai besar seperti kendaraan.
Baca Juga: Surat Gianni Infantino untuk Argentina Bocor, Perkuat Tudingan FIFA Tak Netral Pasar menanti sinyal stimulus baru Perhatian investor kini tertuju pada rapat Politbiro Partai Komunis China yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli.
Pertemuan tersebut merupakan agenda penting dalam penentuan arah kebijakan ekonomi, sehingga pelaku pasar akan mencermati apakah pemerintah akan meluncurkan langkah-langkah tambahan untuk menopang pertumbuhan. Meski demikian, ekspektasi terhadap stimulus berskala besar mulai mereda. Ketahanan ekspor serta preferensi pemerintah China terhadap kebijakan yang lebih terarah (
targeted easing) membuat pasar memperkirakan Beijing akan tetap berhati-hati dalam menggelontorkan stimulus ekonomi. Sebagai informasi, data laba industri China mencakup perusahaan dengan pendapatan tahunan dari kegiatan usaha utama minimal 20 juta yuan.