KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja JPMorgan Chase melesat pada kuartal pertama 2026. Bank terbesar di Amerika Serikat (AS) ini mencatat kenaikan laba berkat bisnis trading yang moncer di tengah gejolak pasar, serta meningkatnya aktivitas dealmaking. Dalam laporan terbarunya, Selasa (14/4/2026), JPMorgan membukukan laba bersih sebesar US$ 16,5 miliar atau US$ 5,94 per saham, naik 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 14,6 miliar atau US$ 5,07 per saham. Kinerja ini ditopang lonjakan pendapatan dari divisi pasar (markets) yang naik 20% menjadi US$ 11,6 miliar.
Volatilitas pasar global dipicu ketidakpastian terkait perkembangan kecerdasan buatan dan konflik Iran mendorong aktivitas transaksi klien, sehingga bisnis trading bank-bank besar ikut terdongkrak.
Baca Juga: DANA Hitung Transaksi, Sambil Menggerakkan Konservasi Pendapatan dari perdagangan obligasi (fixed income) naik 21% menjadi US$ 7,1 miliar, sementara perdagangan saham (equities) tumbuh 17% menjadi US$ 4,5 miliar. CEO JPMorgan, Jamie Dimon, menilai kondisi global saat ini penuh tantangan. "Risiko semakin kompleks, mulai dari tensi geopolitik, perang, volatilitas harga energi, hingga ketidakpastian perdagangan," ujarnya. Selain trading, lini investment banking juga menjadi penopang utama. Biaya jasa investment banking JPMorgan melonjak 28% secara tahunan, tertinggi di antara bank global, seiring meningkatnya aktivitas merger dan akuisisi (M&A) serta penerbitan saham dan obligasi. Nilai transaksi M&A global bahkan menembus US$ 1 triliun pada kuartal pertama. JPMorgan terlibat dalam sejumlah transaksi besar, termasuk penjamin emisi obligasi Amazon senilai US$37 miliar, serta penasihat utama untuk transaksi privat AES Corporation senilai US$33,4 miliar.
Baca Juga: JPMorgan Percaya Diri, Laba Kuartal III Bakal Melampaui Ekspektasi Bank ini juga menjadi salah satu penjamin emisi utama dalam IPO perusahaan fintech milik SoftBank, yakni PayPay, di Amerika Serikat. Prospek dealmaking ke depan masih cukup cerah, didorong ekspektasi pelonggaran regulasi di bawah pemerintahan Donald Trump, meski kondisi pasar yang fluktuatif membuat pelaku usaha tetap berhati-hati. Pendapatan Bunga dan Konsumsi Tetap Kuat Dari sisi bisnis inti, pendapatan bunga bersih (net interest income) JPMorgan naik 9% menjadi US$ 25,5 miliar. Kenaikan ini didukung permintaan kredit yang mulai pulih, seiring pasar tenaga kerja yang masih solid dan menopang daya beli masyarakat.
Meski suku bunga masih relatif tinggi, penurunannya dari level puncak turut mendorong minat pinjaman. Konsumsi masyarakat juga tetap terjaga, sehingga kualitas kredit bank relatif stabil.
Baca Juga: Laba Saudi Aramco Terkoreksi pada Kuartal III-2025 Imbas Penurunan Harga Minyak Dunia Dimon menegaskan ekonomi Amerika Serikat masih cukup tangguh. “Ekonomi tetap resilien. Pasar tenaga kerja memang sedikit melunak, tapi belum menunjukkan pelemahan signifikan, dan konsumen masih terus belanja,” katanya. Namun, ke depan tantangan tetap membayangi. Konflik yang melibatkan Iran mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat. Jika berlanjut, kondisi ini berpotensi menahan penurunan suku bunga dan menekan pertumbuhan ekonomi global.