Laba Kalbe Farma (KLBF) Turun Tipis di Semester I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) bervariasi pada semester I-2026. Di mana, perusahaan menunjukkan pertumbuhan penjualan yang solid, meski laba bersih mengalami penurunan tipis.

Berdasarkan laporan keuangan, KLBF membukukan penjualan neto sebesar Rp 19,47 triliun, atau naik 14,06% dari Rp 17,07 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Hal tersebut membuat laba bruto KLBF naik tipis 4,43% secara tahunan menjadi Rp 7,31 triliun di periode Januari-Juni 2026.


Namun, laba bersih KLBF tercatat turun 2,96% dari Rp 2,03 triliun di semester I-2025 menjadi Rp 1,97 triliun pada periode Januari-Juni 2026.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada Kamis (6/8), Ini Kata Analis

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, pertumbuhan penjualan KLBF masih tergolong berkualitas, meski belum sepenuhnya tercermin pada laba bersih.

“Pertumbuhan penjualan neto 14,1% mencerminkan kinerja top line yang solid dan margin kotor yang terjaga. Namun, adanya gap dengan laba bersih yang turun tipis menunjukkan tekanan pada biaya operasional dan margin bersih,” ujar Abida kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Ia menambahkan, terdapat beberapa faktor yang menekan profitabilitas KLBF.

“Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya bahan baku impor, sementara peningkatan beban operasional untuk ekspansi distribusi dan investasi di segmen nutritional dan health sciences juga turut menekan margin,” jelasnya.

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo bilang, pertumbuhan penjualan KLBF masih didukung oleh permintaan yang kuat di sejumlah segmen.

“Pertumbuhan penjualan masih tergolong berkualitas karena didorong oleh peningkatan permintaan, terutama pada segmen obat resep dan distribusi. Namun, penurunan laba menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi laba,” ujarnya.

Menurut Azis, tekanan terhadap laba bersih berasal dari peningkatan beban operasional, termasuk biaya pemasaran, distribusi, serta investasi pada pengembangan produk dan digitalisasi.

Selain itu, perubahan bauran produk juga turut memengaruhi margin.

 
KLBF Chart by TradingView

“Pertumbuhan yang lebih besar berasal dari segmen dengan margin relatif lebih rendah dibandingkan bisnis obat bermerek, sehingga menekan margin operasional,” jelasnya.

Meski demikian, kedua analis melihat peluang pemulihan laba pada Semester II-2026.

“Momentum penjualan yang kuat di paruh pertama tahun ini dapat menjadi basis untuk perbaikan operating leverage di semester kedua, terutama jika perusahaan mampu mengendalikan pertumbuhan biaya,” kata Abida.

Azis menambahkan, potensi perbaikan kinerja masih terbuka. “Jika tekanan biaya mulai mereda dan pertumbuhan penjualan tetap terjaga, khususnya pada produk dengan margin lebih tinggi, maka laba bersih berpotensi kembali tumbuh pada semester kedua,” imbuhnya.

Dari sisi prospek, kinerja KLBF hingga akhir tahun dinilai masih positif, didukung oleh permintaan produk kesehatan yang stabil dan ekspansi bisnis yang berkelanjutan.

“Pertumbuhan top line yang solid menjadi fondasi utama. Kuncinya ada pada disiplin pengelolaan biaya agar pertumbuhan penjualan dapat dikonversi menjadi pertumbuhan laba,” jelas Abida.

Azis menambahkan, segmen obat resep serta distribusi dan logistik masih menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara segmen nutrisi juga memiliki prospek yang baik seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Lesu, Analis Ungkap Saham Pilihan Semester II 2026

Dari sisi rekomendasi, Azis merekomendasikan beli untuk saham KLBF. “Kami merekomendasikan buy dengan target harga Rp 970 per saham,” ujarnya.

Sebagai informasi, saham KLBF ditutup menguat 8,84% atau naik 65 poin ke level Rp 800 per saham pada perdagangan Rabu (5/8/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News