KONTAN.CO.ID - Bank terbesar kedua di Singapura, Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), membukukan laba bersih kuartal II-2026 yang melonjak 22% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi rekor kuartalan baru. Kinerja tersebut melampaui ekspektasi analis, ditopang pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee), perdagangan (trading), dan asuransi yang mampu mengimbangi tekanan pada margin bunga.
Baca Juga: AS Terapkan Tarif 15% atas Produk Polysilicon, Trump Bidik Dominasi China Mengutip
Reuters, Jumat (7/8), laba bersih OCBC pada periode April-Juni 2026 mencapai S$ 2,22 miliar (setara US$ 1,73 miliar). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata proyeksi tiga analis yang dihimpun LSEG sebesar S$ 1,93 miliar. Seiring capaian tersebut, OCBC menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit pada 2026. Bank kini memperkirakan pertumbuhan kredit berada pada kisaran high single digit hingga
low double digit, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang hanya mid single digit. Chief Executive Officer (CEO) OCBC Tan Teck Long mengatakan, pendapatan bank secara keseluruhan diperkirakan tetap tumbuh pada 2026 meski pendapatan bunga bersih (
net interest income) diproyeksikan mengalami sedikit penurunan. Selain itu, rasio biaya terhadap pendapatan (
cost-to-income ratio) diperkirakan tetap berada di kisaran 40% rendah, sementara biaya kredit (
credit cost) diproyeksikan berada di rentang 20 hingga 25 basis poin.
Baca Juga: Bursa Global Turun Kamis (6/8) Jelang Data Tenaga Kerja AS, Harga Minyak Melonjak OCBC juga mempertahankan rasio pembayaran dividen reguler sebesar 50% dan menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan program pengembalian modal (capital return) senilai S$ 2,5 miliar hingga akhir 2026. Meski demikian, Tan mengingatkan masih adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, termasuk konflik di Timur Tengah yang terus berkembang, dinamika pasar energi, serta pertumbuhan ekonomi global yang dinilainya berlangsung tidak merata atau berbentuk K-shaped recovery. Menurutnya, posisi permodalan, pendanaan, dan likuiditas OCBC yang kuat akan menjadi modal penting untuk mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus menjadi bantalan menghadapi ketidakpastian. Investor saat ini juga mencermati bagaimana perbankan mengelola tekanan akibat penurunan suku bunga, serta kemampuan pendapatan dari bisnis wealth management, transaction banking, dan pasar modal untuk mengimbangi penyusutan margin kredit.
Baca Juga: Trump Kembali Batasi Kewarganegaraan Otomatis di AS, Ini Isi Aturan Barunya Margin bunga bersih (
net interest margin/NIM) OCBC turun menjadi 1,70% pada kuartal II-2026, dari 1,92% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laporan keuangan OCBC dirilis pada hari yang sama ketika United Overseas Bank (UOB) membukukan kenaikan laba bersih kuartal II sebesar 10%, didorong rekor pendapatan komisi dari bisnis wealth management. Sementara itu, sehari sebelumnya, DBS Group juga melaporkan laba bersih kuartal II yang naik 9% menjadi rekor tertinggi dan melampaui ekspektasi pasar.
Kinerja positif bank-bank Singapura tersebut sejalan dengan bank-bank Asia lainnya seperti HSBC dan Standard Chartered, yang juga mencatat pertumbuhan kuat pada pendapatan komisi bisnis wealth management. Arus masuk dana ke pusat keuangan yang dianggap sebagai aset aman, seperti Singapura, di tengah ketidakpastian geopolitik dan menguatnya pasar saham regional, turut meningkatkan jumlah nasabah kaya di kawasan Asia.
Baca Juga: Minyak Brent Ditutup di Atas US$ 82, RUU Iran soal Selat Hormuz Jadi Sorotan OCBC juga mengumumkan dividen interim sebesar 47 sen Singapura per saham, naik 15% dibandingkan 41 sen Singapura pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, return on equity (ROE) bank meningkat menjadi 14,4% pada kuartal II-2026, dari 12,3% setahun sebelumnya.