KONTAN.CO.ID - Operator merek pakaian Uniqlo Fast Retailing melaporkan lonjakan laba operasional kuartalan hingga sepertiga dan menaikkan proyeksi kinerja tahunan, ditopang pertumbuhan penjualan global yang kuat sehingga mampu menyerap dampak tarif Amerika Serikat (AS). Perusahaan berada di jalur mencatat pertumbuhan laba untuk tahun kelima berturut-turut, didorong pemulihan penjualan di China pasar luar negeri terbesarnya serta strategi ekspansi agresif di Amerika Utara dan Eropa.
Baca Juga: Jumat Kelabu (9/1): Rupiah dan Won Melemah Paling Dalam Terhadap Dolar AS Sepanjang kuartal tersebut, Fast Retailing membuka gerai utama di Antwerp, Birmingham, dan Munich. Di AS, perusahaan berencana membuka sejumlah flagship store baru di Chicago, New York, dan Boston. “Pada kuartal pertama, kami berhasil menyerap dampak tambahan tarif di AS dan melampaui ekspektasi kami terhadap margin laba usaha,” ujar Chief Financial Officer (CFO) Fast Retailing, Takeshi Okazaki, dalam konferensi pers, Kamis (8/1/2026). Laba Kuartalan Lampaui Ekspektasi Analis Fast Retailing, yang dikenal dengan produk basic tahan lama dan kerap menjadi indikator sentimen konsumen di Jepang dan China mencatat laba operasional naik 34% menjadi 205,6 miliar yen (sekitar US$1,3 miliar) pada periode September–November, seiring kenaikan pendapatan 15%. Capaian ini jauh melampaui estimasi konsensus LSEG sebesar 177 miliar yen.
Baca Juga: Inflasi China Capai Level Tertinggi 3 Tahun, Tekanan Deflasi Mereda Laba dari bisnis domestik Jepang tumbuh 20,6% secara tahunan, ditopang permintaan kuat untuk sweatshirt dan pakaian dalam penghangat. Di pasar internasional, banyak negara mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit. Penjualan musim gugur di China tergolong solid, sementara peluncuran kerja sama dengan raksasa e-commerce JD.com berhasil menarik pelanggan baru. Secara keseluruhan, segmen internasional Fast Retailing membukukan pertumbuhan laba 41,6%. Target Laba Tahunan Dinaikkan Untuk tahun buku berjalan, Fast Retailing menaikkan target laba operasional menjadi 650 miliar yen, dari sebelumnya 610 miliar yen. Perusahaan juga terus mengurangi ketergantungan pada pasar China setelah kebijakan ketat COVID-19 sebelumnya menekan bisnis, dengan Amerika Utara dan Eropa kini menjadi fokus utama pertumbuhan.
Baca Juga: Pembeli Menahan Order, Harga Beras India dan Vietnam Mandek Meski terjadi ketegangan diplomatik antara Jepang dan China, Fast Retailing tetap memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dan laba di China hingga akhir tahun buku yang berakhir Agustus 2026.
Menanggapi pertanyaan terkait pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan yang memicu respons China, Okazaki menyatakan, “Mungkin ada dampak dalam tingkat tertentu, tetapi sulit untuk menilainya.” Ia menambahkan, sejauh ini tidak ada dampak signifikan dari potensi penurunan jumlah wisatawan asal China terhadap kinerja perusahaan.