KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konsumer PT Mayora Indah Tbk (
MYOR) melaporkan kenaikan laba bersih di tengah turunnya penjualan hingga Maret 2026. Berdasarkan laporan kinerja keuangannya yang dirilis Selasa (28/4/2026), penjualan bersih MYOR di periode Januari hingga Maret 2026 mengalami penurunan 4,74% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 9,39 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 9,85 triliun.
Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang mencerminkan laba bersih melonjak 37,15% yoy menjadi Rp 945,58 miliar, dari Rp 689,43 miliar. Manajemen MYOR menjelaskan penurunan penjualan pada awal tahun 2026 dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama pergeseran periode Lebaran yang lebih awal sehingga sebagian distribusi dan penjualan sudah terealisasi pada kuartal IV-2025.
Baca Juga: Kuartal I-2026, Laba Mayora Indah (MYOR) Melesat 37,15% Selain itu, pembatasan operasional truk selama periode Lebaran yang pada tahun ini sepenuhnya terjadi di bulan Maret juga memberikan tekanan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang dampaknya terbagi antara Maret dan April. Meski demikian, kinerja profitabilitas perseroan justru membaik. Penurunan harga komoditas utama seperti kopi dan kakao yang menjadi bahan baku turut menekan biaya produksi, sehingga mendorong peningkatan laba bersih di tengah pelemahan penjualan. "Hal itu yang menyebabkan laba bersih naik meskipun penjualan menurun," kata manajemen MYOR kepada Kontan, Selasa (28/4/2026). Manajemen menilai prospek MYOR tetap positif, seiring dengan mulai berlangsungnya proses pengisian ulang persediaan (replenishment inventory) sejak April 2026. Research Analyst MNC Sekuritas Catherine Florencia mengatakan laba bersih MYOR mencapai Rp 945,6 miliar pada kuartal I-2026, tumbuh 37,2% secara tahunan (year on year/yoy), meski terkoreksi 6,9% secara kuartalan (quarter to quarter/qtq). Realisasi tersebut setara dengan 28,4% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 26,3% dari konsensus untuk tahun buku 2026. Seiring itu, margin laba bersih (net profit margin/NPM) meningkat menjadi 10,1%, dibandingkan 7% pada periode yang sama tahun lalu dan 8,8% pada kuartal IV-2025.
Baca Juga: Pefindo Sematkan Peringkat idAA untuk Mayora Indah (MYOR), Prospek Stabil Di sisi pendapatan, MYOR membukukan penjualan sebesar Rp 9,4 triliun, turun 4,7% yoy dan 18,5% qtq. Capaian ini mencerminkan sekitar 22,9% dari estimasi MNC Sekuritas dan 21,5% dari konsensus tahun 2026. Penurunan penjualan tersebut terjadi seiring normalisasi permintaan setelah adanya percepatan penjualan (pull-forward) pada kuartal IV-2025 yang dipicu momentum Lebaran. Secara rinci, penjualan domestik turun 8,3% yoy, sementara kinerja ekspor relatif stagnan dengan pertumbuhan tipis 1,3% yoy. Meski demikian, profitabilitas MYOR justru menunjukkan perbaikan signifikan. Laba kotor naik 15,3% yoy menjadi Rp 2,5 triliun, meskipun turun 8,6% secara kuartalan. Hal ini mendorong margin laba kotor meningkat menjadi 26,6%, dari sebelumnya 21,9% pada kuartal I-2025 dan 23,7% pada kuartal IV-2025. Peningkatan margin tersebut terutama ditopang oleh penurunan harga bahan baku, khususnya kakao, yang berkontribusi terhadap efisiensi biaya produksi. Kondisi ini turut mendorong laba operasional yang tumbuh 39,1% yoy menjadi Rp 1,2 triliun, meskipun mengalami penurunan 12% secara kuartalan. Catherine menambahkan tekanan pada kinerja MYOR sebagian besar dapat terkompensasi oleh penurunan harga bahan baku yang cukup signifikan. Dengan kondisi tersebut, pada semester I-2026 margin laba kotor (GPM) dan laba kotor masih diperkirakan tetap solid.
Namun demikian, dari sisi beban operasional (OPEX) diproyeksikan mengalami kenaikan, sehingga berpotensi menahan pertumbuhan laba operasional. Selain itu, daya beli yang masih lemah juga menjadi faktor risiko bagi kinerja perusahaan. Ia juga menyoroti adanya potensi tekanan dari komponen berbasis minyak (oil-related) yang dapat mendorong kenaikan biaya kemasan (packaging) dan ongkos distribusi (freight). Dampak dari kenaikan biaya ini diperkirakan akan mulai tercermin pada kinerja MYOR di kuartal II-2026. Dari sisi rekomendasi saham, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.400 per saham. Target ini mencerminkan valuasi price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) masing-masing sebesar 16,1 kali dan 2,6 kali untuk tahun 2026, serta 14,3 kali dan 2,3 kali untuk tahun 2027. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News