Laba Mayoritas Emiten Grup Barito Tertekan, Bagaimana Prospek pada Semester II-2026?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten Grup Barito mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja top line yang solid sepanjang semester I-2026. Namun, terdapat koreksi dari sisi profitabilitas yang dialami oleh hampir seluruh emiten tersebut.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT), misalnya, membukukan kenaikan pendapatan mencapai 76,1% year on year (YoY) menjadi US$ 5,69 miliar. Namun, laba bersihnya menyusut 64,8% YoY menjadi US$ 190 juta pada semester I-2026.

Anak usaha BRPT yang fokus di segmen petrokimia dan energi, yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), mencatat pola kinerja serupa pada paruh pertama 2026. Pendapatannya melesat 83,6% YoY menjadi US$ 5,3 miliar, tetapi laba bersihnya turun 77,2% YoY menjadi US$ 371,2 juta.


Begitu pula dengan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang mengalami kenaikan pendapatan 22,8% YoY menjadi US$ 82,1 juta. Namun, laba bersihnya terkoreksi 74% YoY menjadi US$ 19,3 juta.

Baca Juga: Mayoritas Emiten di Indeks LQ45 Raih Kinerja Apik pada Semester I-2026

Sebaliknya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang bergerak di sektor energi terbarukan mengalami kenaikan pendapatan 11,5% YoY menjadi US$ 334 juta, sekaligus peningkatan laba bersih 29% YoY menjadi US$ 106 juta.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan laba bersih di tengah lonjakan pendapatan menunjukkan paradoks yang dialami BRPT, TPIA, dan CDIA dengan tiga penyebab utama.

Pertama, koreksi laba dipengaruhi oleh efek basis angka yang tinggi pada semester I-2025, di mana terdapat keuntungan akuntansi yang diakui dari akuisisi Aster. Akibatnya, perbandingan secara tahunan menghasilkan penurunan yang besar meskipun kinerja operasional tetap solid.

Kedua, TPIA sebenarnya telah mengonsolidasikan secara penuh pendapatan Aster pada semester I-2026. Namun, margin petrokimia global masih tertekan akibat kelebihan pasokan di China yang berdampak pada banjir impor produk olahan petrokimia murah di pasar regional.

"Pendapatan tinggi, namun margin tipis adalah karakteristik industri petrokimia saat ini," kata dia, Senin (3/8).

Ketiga, beban bunga dari pendanaan akuisisi Aster turut menekan kinerja bottom line.

BREN sendiri menjadi satu-satunya emiten Grup Barito yang mencatat pertumbuhan laba bersih berkat power purchase agreement (PPA) panas bumi yang menggunakan skema take or pay, sehingga menghasilkan model bisnis yang defensif.

Wafi melanjutkan, prospek kinerja emiten-emiten Grup Barito cenderung bervariasi antarsegmen. Di segmen petrokimia, BRPT maupun TPIA berpotensi diuntungkan oleh kebijakan pembebasan bea masuk impor LPG petrokimia, sehingga dapat mengurangi biaya bahan baku.

Baca Juga: Ekspansi Data Center Diproyeksi Jadi Penopang Kinerja Telkom (TLKM) hingga Akhir 2026

Segmen energi terbarukan melalui BREN diperkirakan dapat menjadi motor pertumbuhan yang paling defensif di dalam Grup Barito. Namun, isu konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau high shareholder concentration (HSC) overhang serta eksklusi dari MSCI masih membatasi re-rating saham BREN.

"Faktor krusial bagi Grup Barito adalah apakah petrochemical spread terus membaik atau kembali tertekan jika permintaan China melemah," imbuh dia.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menimpali, segmen petrokimia berpotensi kembali menopang kinerja Grup Barito seiring harga nafta turun ke level yang lebih kompetitif. Hal ini dapat memperbaiki selisih biaya bahan baku (feedstock) dan meningkatkan utilisasi pabrik.

Selain itu, proyek CA-EDC yang ditargetkan beroperasi pada 2027 mulai memberikan sentimen positif bagi segmen petrokimia.

Di sisi lain, Abida juga meyakini BREN tetap menjadi jangkar paling stabil dengan visibilitas pendapatan terkuat dari kontrak PPA jangka panjang.

"Faktor krusial bagi kelangsungan kinerja emiten Grup Barito antara lain stabilitas harga minyak, realisasi ramp-up CA-EDC, dan kepastian tarif off-take proyek EBT baru BREN," tutur dia, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah, Analis Ungkap Penyebab dan Saham Pilihan Besok Selasa (4/8)

Menurut Abida, ada dua prioritas strategi yang perlu dilakukan oleh emiten Grup Barito. Pertama, akselerasi integrasi aset Aster untuk merealisasikan sinergi operasional yang menjadi kunci perbaikan margin TPIA. Kedua, perlunya eksekusi tepat waktu proyek CA-EDC sebagai katalis game changer terbesar menuju tahun 2027.

Sementara itu, menurut Wafi, emiten Grup Barito, terutama TPIA, perlu secara agresif mengamankan pasokan bahan baku dengan memanfaatkan kebijakan bebas bea masuk impor LPG. TPIA juga perlu menjaga progres proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sesuai lini masa untuk membangun kepercayaan investor bahwa diversifikasi usaha mereka benar-benar menjadi jaminan peningkatan kinerja.

Dari sekian emiten Grup Barito, Wafi merekomendasikan hold saham BRPT dengan target harga Rp 1.400 per

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News