Laba MIDI Tumbuh 24%, Analis Yakin Bisnis Minimarket Solid & Valuasinya Murah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) pada semester I 2026 dinilai masih berada dalam jalur yang sesuai ekspektasi. Pertumbuhan ini didukung oleh bisnis minimarket yang tetap solid serta ekspansi di luar Jawa yang mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Baruna Arkasatyo dalam riset pada 27 Juli 2026, mengatakan hasil kinerja MIDI pada kuartal II 2026 secara umum sejalan dengan proyeksi. Menurutnya, pencapaian tersebut didukung oleh margin laba kotor alias gross profit margin (GPM) yang lebih baik, meski penjualan produk kebutuhan pokok mengalami penurunan dan berdampak terhadap pertumbuhan penjualan secara keseluruhan.

“Pertumbuhan kuat di luar Jawa menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek MIDI ke depan. Kami mempertahankan rekomendasi Add karena melihat perusahaan masih berada di jalur untuk membukukan pertumbuhan laba per saham (EPS) di tahun 2026 sebesar 16%,” ujar Baruna dalam risetnya.


Baca Juga: Trimegah Luncurkan Trima+, Investor Kini Bisa Beli IPO Obligasi Secara Online

Pada kuartal II 2026, pendapatan MIDI tercatat sebesar Rp 5,4 triliun, turun 9% secara kuartalan namun meningkat 11% secara tahunan. Angka tersebut setara dengan 24% dari proyeksi pendapatan setahun penuh versi CGS International Sekuritas Indonesia maupun konsensus Bloomberg.

Pertumbuhan penjualan toko yang sama atau same store sales growth (SSSG) pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 2,7%, turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,6%. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh penurunan penjualan produk kebutuhan pokok dengan margin rendah, seperti beras, akibat keterbatasan pasokan di pasar.

Selain itu, terdapat perubahan klasifikasi pencatatan pendapatan yang memasukkan segmen isi ulang pulsa dan data seluler pada 2026. Dengan faktor tersebut, SSSG semester I 2026 berada di level 3,7% secara tahunan. Meski lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya, angka tersebut masih sejalan dengan target perusahaan untuk mencapai pertumbuhan SSSG kisaran menengah satu digit pada tahun ini.

Secara kumulatif, pendapatan MIDI pada semester I 2026 mencapai Rp 11,2 triliun atau tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan terbesar berasal dari wilayah di luar Jawa yang mencatat kenaikan penjualan 18% secara tahunan. Sementara itu, wilayah Greater Jakarta mengalami penurunan 1% dan Jawa di luar Greater Jakarta tumbuh 5%.

Dari sisi profitabilitas, laba bersih MIDI pada kuartal II 2026 tercatat sebesar Rp 220 miliar, turun 17% dibandingkan kuartal sebelumnya namun meningkat 10% secara tahunan. Dengan demikian, laba bersih semester I 2026 mencapai Rp 486 miliar atau tumbuh 24% secara tahunan.

Baca Juga: Kinerja SSIA Diproyeksi Positif di 2026, Cermati Rekomendasi Analis

Kinerja margin laba kotor juga menunjukkan perbaikan. Pada kuartal II 2026, GPM MIDI mencapai 26,8%, meningkat 1,8 poin persentase secara kuartalan dan 2,3 poin persentase secara tahunan. Sepanjang semester I 2026, GPM berada di level 25,8%, naik 0,4 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.

Baruna menjelaskan, peningkatan GPM tersebut kemungkinan besar berasal dari komposisi penjualan yang lebih rendah pada produk kebutuhan pokok bermargin rendah, seperti beras, sehingga memberikan dampak positif terhadap margin.

Namun, margin operasional atau EBIT margin pada kuartal II 2026 mengalami tekanan dan turun menjadi 21,5%. Penurunan ini dipengaruhi oleh kenaikan rasio biaya operasional terhadap penjualan, yang salah satunya berkaitan dengan perbedaan basis setelah pemisahan bisnis Lawson serta pembukaan bersih 35 gerai baru pada kuartal II 2026 dibandingkan 17 gerai pada periode yang sama tahun sebelumnya.

CGS International Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan rekomendasi add untuk saham MIDI. Baruna menilai kekuatan bisnis minimarket yang resilien serta eksposur pertumbuhan di luar Jawa menjadi faktor pendukung utama. Ia juga menilai kekhawatiran terhadap meningkatnya persaingan akibat pembentukan Koperasi Merah Putih sebagai inisiatif ekonomi pedesaan nasional masih terlalu berlebihan.

Saat ini, saham MIDI diperdagangkan pada valuasi price to earnings (P/E) tahun 2026 sebesar 10,1 kali, atau sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun terakhir. Valuasi tersebut mencerminkan peluang pertumbuhan EPS di tahun 2026 sebesar 16% dengan estimasi imbal hasil dividen sekitar 3%.

CGS International Sekuritas Indonesia mempertahankan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) MIDI di level Rp 490 per saham, dengan asumsi weighted average cost of capital (WACC) 10,8% dan pertumbuhan jangka panjang (long-term growth/LTG) 2,5%.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed

Menurut Baruna, katalis positif bagi potensi kenaikan valuasi saham MIDI antara lain pertumbuhan SSSG di atas 5% secara tahunan serta perbaikan disiplin fiskal. Sementara itu, risiko yang perlu diperhatikan adalah kenaikan biaya operasional yang lebih tinggi dari perkiraan serta potensi peningkatan pemutusan hubungan kerja.

Saham MIDI pada Selasa (28/7/2026) ditutup naik 2,13% di Rp 288 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News