Laba MINE Menyusut, Meski Pendapatan Naik 6% Jadi Rp 1,22 Triliun Semester I-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendapatan PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) mencapai Rp 1,22 triliun sepanjang semester I-2026.

Pendapatan emiten yang bergerak di industri jasa penunjang pertambangan dan penggalian ini naik 6,08% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan capaian Rp 1,15 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mengangkat perolehan laba MINE pada paruh pertama tahun ini. Beban pokok pendapatan MINE naik lebih tinggi, meningkat 9,97% (YoY) dari Rp 929,59 miliar menjadi Rp 1,02 triliun.


Hasil tersebut membuat laba bruto MINE menyusut 10,08% (YoY) menjadi Rp 198,21 miliar, turun dibandingkan raihan Rp 220,44 miliar pada semester I-2025. Pada saat yang sama, beban usaha MINE meningkat 30,01% (YoY) menjadi Rp 62,59 miliar.

Alhasil, laba usaha MINE turun 21,29% (YoY) dari Rp 172,30 miliar menjadi Rp 135,61 miliar. Sementara itu, laba periode berjalan MINE menyusut 14,34% (YoY) dari Rp 117,98 miliar menjadi Rp 101,05 miliar pada semester I-2026.

Secara bisnis, mayoritas pendapatan MINE bersumber dari segmen usaha penambangan senilai Rp 1,14 triliun atau setara 93,44% dari total pendapatan pada semester I-2026.

Baca Juga: Menperin: Insentif Kendaraan Listrik Diprioritaskan untuk Merek Nasional

Selain itu, pendapatan MINE didapat dari segmen jasa konstruksi sebesar Rp 73,41 miliar. Segmen usaha penambangan dan jasa konstruksi MINE kompak menanjak masing-masing sebesar 2,7% dan 93,94%.

Chief Finance Officer Sinar Terang Mandiri, Holmes Siringoringo, menyoroti peningkatan pendapatan MINE pada semester I-2026 menunjukkan kinerja yang solid di tengah dinamika industri pertambangan di Indonesia. Holmes mengungkapkan, pertumbuhan pendapatan didukung oleh meningkatnya pendapatan lini usaha penambangan dan jasa konstruksi yang signifikan.

Pertumbuhan pendapatan MINE pada semester I-2026 didukung oleh kinerja sejumlah proyek yang sedang dikerjakan. Proyek-proyek tersebut mencakup kerja sama dengan PT Weda Bay Nickel, PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), PT Hengjaya Mineralindo, serta pembangunan jalan untuk PT Erabaru Timur Lestari.

Kontribusi dari proyek-proyek tersebut menjadi pendorong pertumbuhan pendapatan MINE pada periode tersebut.

"Ke depan, MINE akan terus memperkuat kolaborasi dengan mitra eksisting sekaligus membuka peluang kerja sama baru untuk menjaga pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan,” ungkap Holmes melalui keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (30/7/2026).

Holmes menambahkan, MINE terus memperluas portofolionya melalui sejumlah kontrak baru. Pada kuartal II-2026, MINE menambah kontrak untuk perpanjangan Proyek Konstruksi Sampala sepanjang 3,5 kilometer, menjadi subkontraktor dari PT Horizon Jaya Perkasa untuk proyek Dry Stack Tailings Facility di Morowali untuk PT Hengjaya Mineralindo.

Baca Juga: Indeks Kepercayaan Industri Naik ke 53,10 di Juli, Industri Domestik Makin Bergairah

MINE juga melakukan penambahan hampir 100 unit armada hauling di PT SCM. Capaian ini telah membuat MINE menjadi salah satu kontraktor hauling terbesar di PT SCM dengan total armada mencapai 200 unit dump truck berkapasitas 45 ton.

Di sisi lain, Holmes menyoroti bahwa MINE juga mencatatkan penurunan liabilitas pada periode paruh pertama tahun ini. Liabilitas MINE tercatat sebesar Rp 946,07 miliar, turun sekitar 18,34% dari posisi Rp 1,15 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekuitas MINE meningkat sekitar 14,57% dari Rp 851 miliar menjadi Rp 975,11 miliar.

"Penurunan liabilitas dan peningkatan ekuitas ini mencerminkan komitmen Perseroan dalam menjaga struktur permodalan yang sehat. Kami terus mengelola pendanaan secara disiplin dan memperkuat fundamental keuangan agar MINE memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam mendukung keberlanjutan operasional serta menangkap peluang pertumbuhan di masa mendatang," tutup Holmes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News