KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk
(MPMX) mencatatkan pertumbuhan laba bersih dengan level dobel digit dalam periode sembilan bulan 2026. MPMX membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 538,90 miliar hingga September 2026. Keuntungan MPMX melonjak sebanyak 22,57% secara tahunan atau
year on year (yoy) dibandingkan dengan raihan Rp 439,66 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba bersih ini terjadi ketika pendapatan MPMX bergerak relatif stabil. Pendapatan neto MPMX tercatat menyusut 0,16% (yoy) dari Rp 12 triliun menjadi Rp 11,98 triliun hingga September 2026. Grup Chief Financial Officer Mitra Pinasthika Mustika, Beatrice Kartika mengungkapkan bahwa kinerja sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan MPMX mampu menjaga pendapatan tetap stabil sekaligus meningkatkan profitabilitas. "Perbaikan margin pada bisnis distribusi dan ritel serta transportasi, disertai berkurangnya rugi bersih pada bisnis pembiayaan, menjadi perkembangan positif bagi kinerja Grup," ungkap Beatrice melalui rilis yang disiarkan pada akhir pekan lalu.
Beatrice menyoroti peningkatan profitabilitas juga tercermin dari laba kotor MPMX yang tumbuh sekitar 8% (yoy) menjadi Rp 1,09 triliun dan laba usaha yang meningkat sekitar 19% (yoy) menjadi Rp 584,75 miliar. Sejalan dengan itu, margin laba kotor meningkat menjadi 9,1% dibandingkan 8,5%, margin laba usaha naik menjadi 4,9% dari 4,1%, dan margin laba bersih menjadi 4,5% dibandingkan 3,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya. "Secara segmentasi, kinerja Perseroan menunjukkan dinamika yang beragam, dengan perbaikan profitabilitas pada bisnis distribusi dan ritel serta transportasi, sementara bisnis pembiayaan berhasil memperkecil rugi bersih," jelas Beatrice. Segmen distribusi & ritel membukukan kinerja yang relatif stabil pada sembilan bulan pertama 2026. Segmen ini didukung oleh pertumbuhan pada bisnis ritel dan layanan purna jual yang membantu mengimbangi perlambatan penjualan sepeda motor pada bisnis distribusi. Pada bisnis distribusi, pendapatan penjualan sepeda motor MPMulia menurun sekitar 1% (yoy) menjadi Rp 9,41 triliun, sementara pendapatan dari penjualan suku cadang meningkat sekitar 7% (yoy) menjadi Rp 1,14 triliun. Di sisi lain, bisnis ritel MPMMotor mencatatkan pertumbuhan pendapatan penjualan sepeda motor sekitar 8% (yoy) menjadi Rp 2,58 triliun, serta kenaikan pendapatan layanan purna jual sekitar 9% (yoy) menjadi Rp 79 miliar. Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen meningkat tipis 0,2% (yoy) menjadi Rp 11,31 triliun. Laba kotor tumbuh lebih tinggi sekitar 9% (yoy) menjadi Rp 987 miliar, dengan margin laba kotor meningkat menjadi 8,7% dari 8% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada segmen bisnis asuransi, MPMInsurance membukukan pendapatan asuransi sekitar Rp 672 miliar, atau menurun 6% (yoy). Pendapatan dari lini asuransi properti tumbuh sekitar 6% (yoy) menjadi Rp 297 miliar, sehingga membantu mengimbangi penurunan pendapatan asuransi kendaraan bermotor sekitar 6% (yoy) menjadi Rp 177 miliar dan pendapatan asuransi lainnya sekitar 21% (yoy) menjadi Rp 198 miliar. Di tengah penurunan pendapatan, biaya jasa asuransi turun 7% (yoy) menjadi Rp 561 miliar, sehingga membantu membatasi penurunan hasil jasa asuransi menjadi 3% (yoy), atau sebesar Rp 112 miliar. Rasio klaim meningkat menjadi 39,9% dari 35,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, hasil investasi tercatat sebesar Rp 32 miliar, atau turun 20% (yoy), dipengaruhi oleh lebih rendahnya pendapatan keuangan dan pendapatan lainnya. Di segmen bisnis transportasi, MPMRent tetap mampu meningkatkan profitabilitas di tengah penurunan volume operasional. Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 1,09 triliun, atau menurun sekitar 3% (yoy), seiring berkurangnya jumlah armada yang disewakan dan volume penjualan mobil bekas. Meski demikian, laba kotor meningkat sekitar 10% (yoy) menjadi Rp 240 miliar, dengan margin laba kotor naik menjadi 22% dari 19,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh pengelolaan biaya yang efektif serta komposisi bisnis yang lebih optimal, terutama pada bisnis penjualan mobil bekas.
Sedangkan di segmen bisnis pembiayaan, JACCS MPMFinance Indonesia terus mengedepankan kualitas aset dan keberlanjutan kinerja portofolio melalui penerapan strategi bisnis yang lebih selektif dan prudent. Sejalan dengan pendekatan tersebut, pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 437 miliar, atau menurun sekitar 43% (yoy). Perbaikan kualitas aset dan disiplin dalam pengelolaan biaya turut mendukung penurunan beban operasional sekitar 48% (yoy) menjadi Rp383 miliar. Rugi bersih segmen berhasil menyusut sekitar 73% (yoy), dari Rp 164 miliar menjadi Rp 45 miliar pada periode yang sama tahun 2026. "Ke depan, kami akan tetap berfokus pada pengelolaan biaya yang disiplin, kualitas aset, dan optimalisasi bauran bisnis untuk menjaga kinerja Perseroan secara berkelanjutan,” tandas Beatrice. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News