KONTAN.CO.ID - National Australia Bank (NAB) melaporkan kinerja laba semester I-2026 yang berada di bawah ekspektasi pasar. Bank ini juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, berpotensi menekan kualitas aset ke depan.
Baca Juga: Yen Menguat Tipis Senin (4/5) Pagi, Pasar Waspadai Aksi Lanjutan Otoritas Jepang Melansir
Reuters dalam laporan yang dirilis Senin (4/5/2026), NAB mencatat cash earnings sebesar A$2,64 miliar untuk enam bulan yang berakhir 31 Maret 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan estimasi Visible Alpha sebesar A$2,93 miliar, serta turun dari capaian A$3,58 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. NAB menyebutkan, kinerja tersebut tertekan oleh sejumlah faktor, termasuk beban satu kali (one-off) dan pencadangan penurunan nilai (impairment). Bank mencatat beban sebelum pajak sebesar A$1,35 miliar terkait perubahan kebijakan kapitalisasi perangkat lunak, atau setara A$949 juta setelah pajak. Selain itu, NAB juga membukukan biaya penurunan nilai kredit sebesar A$706 juta, yang sebagian dipicu oleh tekanan ekonomi akibat konflik Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Samsung Tunjuk Bos Baru Divisi TV di Tengah Gempuran Produsen China “Meski kualitas aset secara umum membaik pada semester pertama 2026, prospek ke depan menjadi lebih tidak pasti akibat konflik di Timur Tengah yang menjadi sumber risiko penurunan,” tulis manajemen NAB. Di luar pos-pos besar tersebut, laba operasional sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan tipis.
Cash earnings tercatat mencapai A$3,59 miliar jika tidak memasukkan item-item signifikan, didorong oleh pertumbuhan kuat pada kredit bisnis. Volume pembiayaan bisnis meningkat lebih dari 10%, yang turut mendorong laba segmen business and private banking naik 12,3% menjadi A$1,85 miliar. Dari sisi profitabilitas,
net interest margin (NIM) NAB indikator utama margin bunga bank naik tiga basis poin menjadi 1,81% dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terkoreksi Senin (4/5) Pagi, Tapi Tetap Bertahan di Atas US$ 100 Namun, rasio permodalan inti atau
common equity tier 1 (CET1) turun menjadi 11,65% dari 12,01% pada tahun lalu, mencerminkan dampak volatilitas pasar. Sebagai tambahan, NAB menetapkan dividen interim sebesar 85 sen dolar Australia per saham, tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya. Ketidakpastian global akibat konflik Iran-AS yang memicu lonjakan harga energi dan gangguan pasokan minyak turut menjadi faktor yang membayangi prospek sektor perbankan ke depan.