Laba nan hore dari latihan sorak sorai



“Hooreee, hooree, hooree! Tiger siss-boom-ah!” Begitulah teriakan membahana para pemandu sorak saat beraksi. Melibatkan sekumpulan cewek cantik, lincah, dan seksi dengan rok mini khasnya, pertunjukan tim pemandu sorak ini selalu menarik perhatian.  

Biasanya mereka tampil mengiringi berbagai event pertandingan olahraga, seperti pertandingan basket atau sepakbola. Bahkan, di luar negeri, pom-pom girls alias cheerleader juga kerap tampil di pertandingan hoki es, bola voli, atau bisbol.

Selain di dunia olahraga, cheerleader juga sering kali diundang untuk beraksi dalam pawai, karnaval, atau sejenisnya. Belakangan, kompetisi cheerleader juga kerap digelar di berbagai tingkatan, mulai dari skala kota sampai internasional.


Cheerleader pun populer di kalangan siswa. Tak heran, banyak sekolah, terutama sekolah menengah atas (SMA), memiliki ekstrakurikuler (ekskul) cheerleader. Biasanya, para siswi yang merasa dirinya cantik dan lincah pasti bergabung dengan kegiatan ekskul ini.

Sekolah yang memiliki ekskul cheerleader pasti menunjuk seorang pelatih. Soalnya, tidak mudah untuk menampilkan pertunjukan cheerleader yang indah dan menantang.

Selain latihan terus-menerus, juga diperlukan ketabahan dan ketekunan.  Menjamurnya ekskul cheerleader di sekolah-sekolah otomatis mendorong tingginya kebutuhan akan jasa pelatih cheerleader.

Tak heran, banyak orang kini menekuni profesi sebagai pelatih cheerleader. Salah satunya adalah Ami Sulistiyo di Jakarta. Pria 30 tahun ini sudah menekuni dunia cheerleader sejak tahun 2005.

Saat ini, Ami menjadi pelatih dua tim cheerleader di dua sekolah berbeda. Menurut Ami, tidak mudah menjadi pelatih dua tim sekaligus karena harus membuat konsep yang berbeda.

Sebelumnya Ami masih sebagai asisten pelatih. "Baru di tahun 2006 saya mulai menjadi pelatih," kata Ami kepada KONTAN. Awal ketertarikan Ami ialah saat dia melihat gerakan tari yang dipadu atraksi lempar. Aksi itu  menurutnya cukup sulit.  

Melatih dari dasar

Menurut Ami, melatih cheerleader diperlukan ketabahan dan ketekunan. Soalnya, siswi yang bergabung belum mempunyai teknik dasar sama sekali. Makanya, latihan harus dimulai dari teknik dasar, seperti teknik atraksi, fisik, sampai dengan mengontrol makanan mereka.

Menurutnya, latihan fisik diperlukan karena kegiatan ini memang menguras energi. Karena itu, tidak semua siswi mampu menjadi seorang cheerleader. Biasanya, latihan dilakukan tiga kali dalam seminggu. Waktu yang dibutuhkan cukup lama, minimal empat sekali latihan.

Jadwal latihan bisa lebih padat bila tim tersebut akan mengikuti kompetisi atau pertunjukan. Agar latihan tidak terasa berat, Ami selalu membuat suasana latihan sesantai mungkin. Tujuannya agar mereka tidak merasa jenuh dan lelah.

Kendala lain yang sering ditemui adalah kurangnya kemauan dari peserta untuk berkembang. "Banyak juga yang hanya ingin gaya-gayaan bergabung dengan tim," katanya.

Nah, untuk mengubah cara berpikir anak didiknya tidak jarang dia memberi motivasi dengan menceritakan prestasi para senior mereka yang berhasil memenangkan kompetisi.

Sebagai pelatih, Ami tidak hanya mengajarkan teknik-teknik dasar dan membuat konsep pertunjukan. Ia juga mengatur musik yang cocok untuk mengiringi gerakan mereka.

Makanya, tak jarang Ami menghabiskan waktunya untuk menggabungkan lebih dari dari musik, bahkan melakukan remix. "Biasanya kalau sulit bisa juga pakai jasa orang lain yang lebih ahli," katanya.

Untuk membuat konsep yang berbeda dan selalu segar, ia mencari inspirasi dari menonton video cheerleader luar negeri dan film. "Sebenarnya tidak sulit karena tekniknya sudah ada pakemnya," katanya. Hanya, agar terlihat berbeda dan menarik dia memberikan tambahan atraksi atau gerakan.

Sebagai pelatih pemandu sorak, pendapatannya bisa dibilang lumayan. Setiap tiap bulan dia bisa mendapatkan pemasukan sekitar Rp 4 juta. Profesi pelatih pemandu sorak juga ditekuni Novia Amarta Handayani.

Ia menjual jasanya lewat bendera usaha Waka Cheerleading Group (WCG) di Semarang, Jawa Tengah. "Dulunya saat SMA, saya juga cheerleader, karena pengalaman itu juga saya menjadi pelatih," tuturnya.

Kendati baru tiga tahun menjadi pelatih, kini ia sudah menangani dua tim cheerleader di dua SMA berbeda di Semarang.  Menurutnya, menjadi pelatih cheerleader memiliki tantangan tersendiri. Antara lain dituntut membuat tim mampu bekerjasama dan kompak. "Itulah pelatih, punya tanggung-jawab kepada semua anggota tim," jelasnya.

Tim cheerleader yang diasuh Novia sering mengikuti kompetisi. Pada 2011 timnya pernah mengikuti kompetisi CAIOC (Cheerleading Asia International Open Championship). Setahun berikutnya mengikuti National Cheerleading Championship. "Kami menjadi juara harapan 1 di tahun 2011," klaimnya.

Untuk masalah tarif, Novia bekerjasama dengan sekolah. Biasanya, murid yang bergabung dikenakan biaya Rp 150.000 per orang per bulan. Dari tarif tersebut, ia mendapat bayaran Rp 4,5 juta sebulan.

Pelatih lainnya adalah Frida Dini Cahya Asih di Bekasi, Jawa Barat. Menjadi pelatih sejak tahun 2008, saat ini ia melatih cheerleader di empat sekolah berbeda di Bekasi. "Pertama kali melatih di SMA Korpri Bekasi, sampai sekarang," ujar perempuan yang akrab dipanggil Dini ini.

Dini mulai mengenal cheerleader ketika duduk di bangku SMA. Berbekal pengalaman itu, ia pun ingin tertantang untuk menjadi pelatih. "Selain itu bisa meningkatkan skill dan menambah pengalaman saya," katanya.

Dalam melatih, Dini menarik iuran dari para muridnya. Tiap murid wajib membayar Rp 100.000 per bulan. Bila tiap tim memiliki 15 sampai 16 anggota, berarti per bulan Dini bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 6 juta.

Menurut Dini, melatih tim cheerleader tidak gampang. Untuk melatih kemampuan dasar para murid saja, dibutuhkan waktu minimum enam bulan sampai setahun.

Itu pun belum jaminan semua anggota tim sudah mahir. "Karena ini tim yang berisi antara 12 hingga 16 orang, kemampuan yang dimiliki tidak rata," ucap Dini.

Untuk mengatasi kendala itu, Dini menyediakan jasa privat kepada murid-murid tersebut. Biasanya murid yang sudah bisa, juga aktif membantu temannya yang belum menguasai.

Menurut Dini, cheerleader bukan kegiatan musiman. Maksudnya, meskipun beberapa tahun ini sedang ngetren, tapi belum tentu di tahun depan pesonanya akan memudar. Anda mau mencoba?  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri