KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Bank asal Singapura, Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) memperingatkan meningkatnya risiko makroekonomi akibat perang di Timur Tengah setelah membukukan kenaikan laba bersih kuartal I-2026 sebesar 5% yang ditopang pertumbuhan bisnis wealth management. Melansir
Reuters Kamis (8/5/2026), bank terbesar kedua di Singapura itu mencatat laba bersih sebesar S$1,97 miliar pada periode Januari–Maret 2026, naik dari S$1,88 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak di Hormuz, AS dan Iran Saling Luncurkan Serangan Capaian tersebut melampaui estimasi rata-rata analis yang dihimpun LSEG sebesar sekitar S$1,89 miliar. Kinerja OCBC ditopang oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga yang naik lebih dari 20% secara tahunan. Pendapatan berbasis biaya (
fee income) meningkat 24%, terutama dari bisnis wealth management yang melonjak 34% menjadi S$422 juta. Meski demikian, OCBC meningkatkan pencadangan untuk aset non-bermasalah menjadi S$191 juta, lebih tinggi dibandingkan S$118 juta pada tahun lalu. Pada kuartal IV-2025, bank bahkan sempat mencatat pembalikan cadangan (
write back) sebesar S$36 juta.
Baca Juga: PMI Jasa Jepang pada April Melambat ke Level Terendah 11 Bulan OCBC menyebut tambahan buffer tersebut dilakukan sebagai langkah kehati-hatian menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. “Ke depan, kondisi global masih penuh ketidakpastian di tengah ketegangan geopolitik dan risiko inflasi yang tinggi,” ujar Group CEO OCBC Tan Teck Long. Menurutnya, prospek jangka pendek sangat bergantung pada perkembangan perang di Timur Tengah, terutama dampaknya terhadap pasokan dan harga energi global. Selain itu, dinamika tarif perdagangan internasional juga terus dipantau. Di sisi profitabilitas,
net interest margin (NIM) OCBC turun menjadi 1,76% pada kuartal I-2026 dari 2,04% setahun sebelumnya, seiring tekanan suku bunga yang mulai menurun.
Baca Juga: Kritik Harga Tiket Piala Dunia yang Mahal, Trump: Saya Tidak Akan Membayarnya OCBC mempertahankan panduan kinerja (
guidance) untuk 2026.
Hasil ini sekaligus melengkapi musim laporan keuangan kuartal I perbankan Singapura yang relatif solid, di mana pertumbuhan bisnis
wealth management dan
fee income membantu menopang kinerja di tengah tekanan margin bunga dan ketidakpastian global. Sebelumnya, DBS Group juga melaporkan laba kuartal I yang melampaui ekspektasi analis, sementara United Overseas Bank (UOB) membukukan hasil yang lebih baik dari perkiraan meski secara tahunan melemah. Awal pekan ini, OCBC juga mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi sebagian aset dan liabilitas portofolio
wealth dan
premier banking milik HSBC di Indonesia. Transaksi tersebut menjadi aksi korporasi besar pertama sejak Tan Teck Long resmi menjabat CEO pada Januari lalu.