Laba Phapros (PEHA) Melonjak di Kuartal I-2026, Cermati Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Phapros Tbk (PEHA) menunjukkan perbaikan pada kuartal I-2026. Emiten farmasi ini berhasil membalikkan rugi menjadi laba, dengan laba bersih tercatat Rp 761,49 juta atau naik 112,86% secara tahunan (yoy).

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, lonjakan laba tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan yang solid, mengingat basis perbandingan yang rendah.

“Laba memang melonjak, tapi basisnya rendah karena sebelumnya rugi. Yang lebih penting, ada perbaikan dari sisi operasional,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/4/2026).


Baca Juga: Obat Bermerek Dorong Pemulihan Phapros (PEHA), Ini Rekomendasinya

Menurutnya, nominal laba yang masih relatif kecil menunjukkan bahwa kinerja PEHA masih berada pada tahap awal pemulihan. “Ini baru tahap awal pemulihan, belum bisa dibilang sudah solid sepenuhnya,” tambahnya.

Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai perbaikan kinerja PEHA tergolong berkualitas karena ditopang efisiensi operasional.

Pendapatan PEHA tercatat tumbuh 10,2%, sementara beban pokok penjualan (COGS) hanya naik 5%.

Hal ini mendorong laba bruto meningkat 16,6% menjadi Rp103,98 miliar, serta laba usaha melonjak 246,6% menjadi Rp12,63 miliar. “Perbaikan berkualitas karena didorong efisiensi nyata, bukan faktor satu kali,” jelasnya.

Meski demikian, Abida mengingatkan bahwa beban keuangan yang masih tinggi, mencapai Rp 11,19 miliar, tetap menjadi faktor penekan laba bersih perseroan.

Dari sisi bisnis, segmen obat generik bermerek (OGB) menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 59% menjadi Rp128,70 miliar. 

Sukarno menilai segmen ini masih memiliki prospek yang cukup baik, didukung oleh permintaan yang stabil.

“Secara demand masih cukup kuat karena kebutuhan obat relatif stabil. Ke depan masih bisa tumbuh, tapi kemungkinan tidak setinggi kuartal ini,” ujarnya. 

Baca Juga: Phapros (PEHA) Raih Kinerja Apik per Kuartal III-2025, Ini Strateginya

Abida menambahkan, keberlanjutan pertumbuhan OGB juga didukung oleh program pemerintah di sektor kesehatan.

“Produk seperti obat anti-TBC dan tablet tambah darah merupakan bagian dari prioritas kesehatan nasional, sehingga visibilitas pendapatan lebih terukur,” jelasnya.

Terkait margin, strategi kontrak pembelian bahan baku dinilai cukup efektif dalam menjaga stabilitas biaya di tengah fluktuasi harga global.

 
PEHA Chart by TradingView

Sukarno menyebut strategi tersebut membantu menjaga margin tetap terkendali, meskipun tidak secara langsung mendorong peningkatan margin. “Fungsinya lebih ke menjaga stabilitas, bukan mendorong margin naik,” katanya. 

Abida juga melihat efektivitas strategi tersebut tercermin dari pertumbuhan COGS yang lebih rendah dibanding pendapatan. Namun, ia mengingatkan adanya risiko jika tekanan nilai tukar rupiah berlanjut dan harga bahan baku impor tetap tinggi.

Dari sisi likuiditas, arus kas operasional PEHA melonjak 289% menjadi Rp 37,16 miliar, berbalik dari posisi negatif pada periode sebelumnya. 

Baca Juga: Obat Bermerek Dorong Pemulihan Phapros (PEHA), Ini Rekomendasinya

Sukarno menilai peningkatan ini menjadi indikasi perbaikan kualitas bisnis, meskipun masih perlu dilihat konsistensinya. “Ini sinyal yang baik, tapi masih perlu dilihat apakah bisa bertahan atau hanya sementara,” ujarnya. 

Abida menambahkan, arus kas operasional yang positif merupakan sinyal pemulihan yang lebih kredibel dibandingkan laba bersih. Namun, konfirmasi pemulihan jangka panjang membutuhkan konsistensi dalam beberapa kuartal ke depan.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Sukarno merekomendasikan trading buy untuk saham PEHA dengan target harga Rp340 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News