KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bukit Asam Tbk (
PTBA) pada semester I-2026 mencatat lonjakan laba yang signifikan. Harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batubara yang lebih tinggi serta penurunan
stripping ratio menjadi pendorong utama kinerja emiten tambang batubara tersebut. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset 1 September 2026 mengatakan, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp 2,7 triliun pada semester I-2026, melesat 218% secara tahunan. Realisasi tersebut telah mencapai 73% dari estimasi Indo Premier Sekuritas dan 66% dari konsensus untuk tahun 2026. "PTBA melaporkan laba bersih semester I-2026 sebesar Rp2,7 triliun atau naik 218% secara tahunan, yang berada di atas estimasi kami dan konsensus," tulis Ryan dalam riset tersebut.
Baca Juga: Saham Oxala Energi (PIPA) dan Global Digital (BELI) Diawasi Bursa, Simak Prospeknya Kinerja tersebut terutama ditopang kenaikan ASP yang lebih tinggi dari perkiraan. Pada kuartal II-2026, ASP PTBA meningkat 14% secara kuartalan dan 20% secara tahunan, sejalan dengan kenaikan harga batubara. Pendapatan PTBA pada kuartal II-2026 tercatat Rp12,1 triliun, tumbuh 22% secara kuartalan dan 15% secara tahunan. Dengan demikian, pendapatan sepanjang semester I-2026 mencapai Rp22 triliun atau tumbuh 8% secara tahunan. Seiring dengan kenaikan ASP dan perbaikan biaya produksi, margin laba kotor (GPM) PTBA meningkat menjadi 22% pada kuartal II-2026 dari 16% pada kuartal I-2026. Margin EBITDA juga membaik menjadi 19% dari sebelumnya 13%. Di bawah lini operasional, pendapatan dari perusahaan patungan atau joint venture (JV) juga memberikan kontribusi positif. Pendapatan dari JV mencapai Rp270 miliar pada kuartal II-2026, naik 61% secara kuartalan dan 131% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama berasal dari laba HBAP yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Alhasil, laba bersih PTBA pada kuartal II-2026 mencapai Rp1,8 triliun. Angka ini melonjak 130% secara kuartalan dan 319% secara tahunan.
Baca Juga: Transaksi Timah di JFX Capai Rp 4 Triliun di Bulan Agustus 2026 Dari sisi operasional, produksi batubara PTBA pada kuartal II-2026 mencapai 12,8 juta ton, melonjak 94% dibandingkan kuartal sebelumnya. Ryan menyebut kenaikan produksi didukung curah hujan yang lebih rendah selama kuartal tersebut. Dengan capaian itu, produksi PTBA sepanjang semester I-2026 mencapai 19,5 juta ton, sementara volume penjualan mencapai 21,1 juta ton. Meski demikian, biaya tunai atau cash cost meningkat menjadi Rp 899.000 per ton, naik 6% secara kuartalan dan 8% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh biaya bahan bakar yang melonjak 59% secara kuartalan dan 54% secara tahunan, serta biaya jasa pertambangan yang meningkat 16% secara kuartalan dan 30% secara tahunan. Namun, tekanan biaya tersebut berhasil diimbangi oleh ASP yang lebih kuat dan perbaikan stripping ratio. Stripping ratio PTBA membaik menjadi 5,2 kali pada kuartal II-2026, dibandingkan 5,3 kali pada kuartal I-2026 dan 6,0 kali pada kuartal II-2025. "Margin kas meningkat seiring ASP yang lebih tinggi, sementara stripping ratio membaik menjadi 5,2 kali," ujar Ryan. Dari sisi pasar, komposisi penjualan domestik PTBA juga meningkat. Penjualan domestik menyumbang 51% dari total penjualan pada semester I-2026, naik dari 50% pada semester I-2025 dan 47% pada kuartal I-2026.
Baca Juga: Rupiah Fluktuatif di Tengah Kenaikan Harga Minyak, Simak Prospeknya Hingga Akhir 2026 Volume penjualan domestik tersebut mencapai 10,8 juta ton. Sementara itu, porsi penjualan ekspor turun menjadi 49% dari 53% pada kuartal I-2026 dan 50% pada semester I-2025. Dari total penjualan domestik, sebanyak 7,8 juta ton atau sekitar 72% diserap oleh PT PLN. Melihat capaian hingga semester I-2026, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan estimasi laba bersih PTBA untuk saat ini. Namun, rekomendasi saham dan target harga PTBA masih dalam peninjauan.
Ryan mengatakan, pihaknya masih menunggu informasi lebih lanjut dari paparan kinerja semester I-2026 PTBA sebelum menentukan kembali rating dan target harga saham tersebut. Sebelumnya, Ryan memasang target harga saham PTBA di level Rp 2.000. Sementara itu, harga saham PTBA pada Kamis (3/9/2026) hingga pukul 15.21 WIB, naik 6,99% di level Rp 2.910 per saham. Sementara proyeksi pendapatan dan laba bersih di tahun 2026 masing-masing akan mencapai Rp 48,95 triliun dan Rp 3,62 triliun. Adapun pendapatan PTBA di tahun 2027 akan mencapai Rp 51,62 triliun dan laba bersih sebesar Rp 3,55 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News