KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi bisnis PT Pupuk Indonesia di bawah supervisi Danantara Indonesia mulai membuahkan hasil. Sepanjang semester I-2026, produsen pupuk pelat merah ini membukukan laba Rp 8,51 triliun atau melonjak 253% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan menjadi Rp 59,67 triliun atau tumbuh 51% secara tahunan.
Sementara itu, EBITDA melesat 140% menjadi Rp 14,28 triliun, didorong kenaikan volume produksi serta efisiensi biaya operasional yang dijalankan secara konsisten. Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, perbaikan kinerja ini merupakan hasil transformasi menyeluruh yang berfokus pada
operational excellence, cost leadership, dan penguatan tata kelola perusahaan sesuai agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara.
Baca Juga: Pasokan Batubara Dalam Negeri Terancam, Pupuk Indonesia Lakukan Penyesuaian Menurutnya, disiplin efisiensi membuat perusahaan mampu menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan, tanpa terlalu bergantung pada siklus harga komoditas. "Transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini akan berkelanjutan, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga untuk memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Rahmad dalam keterangan resmi, Senin (13/7/2026). Rahmad menjelaskan, transformasi tersebut juga memperkuat daya tahan bisnis perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pupuk Indonesia memperluas sumber pendapatan melalui penguatan bisnis pupuk nonsubsidi dan produk nonpupuk, sekaligus mendiversifikasi sumber pasokan serta skema kontrak bahan baku guna meredam dampak fluktuasi harga komoditas terhadap biaya produksi. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan juga melakukan pembenahan menyeluruh melalui digitalisasi operasional, penyederhanaan holding bisnis, penguatan distribusi pupuk bersubsidi, serta pengembangan bisnis komersial. Dari sisi tata kelola, transformasi tersebut diperkuat dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menjadi dasar peningkatan efisiensi operasional perusahaan.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Gandeng Produsen Pupuk di Asia Tenggara, Bentuk Asosiasi SEAFA Ke depan, Pupuk Indonesia akan mempercepat revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun mendatang sebagai bagian dari optimalisasi portofolio aset BUMN. Perseroan juga menyiapkan sejumlah proyek pengembangan baru, mulai dari bisnis metanol dan turunannya, clean ammonia, hingga pengembangan bisnis industrial support. Di sisi pelayanan publik, transformasi perusahaan juga berdampak pada penyaluran pupuk bersubsidi. Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia menyalurkan 8,11 juta ton pupuk bersubsidi atau meningkat 10,68% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja tersebut didukung implementasi sistem i-Pubers dan penyederhanaan tata kelola melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang membuat proses penebusan pupuk menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Hingga 12 Juli 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 5,13 juta ton atau sekitar 52% dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton. Rahmad menegaskan, seluruh agenda transformasi pada akhirnya bertujuan menghadirkan pupuk yang lebih mudah diakses petani dengan biaya yang lebih efisien bagi negara.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Ekspor Urea ke Australia, Total Volume Akan Mencapai 500.000 Ton "Semua perubahan struktural ini bermuara pada satu tujuan, yakni pupuk yang lebih terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan struktur biaya yang lebih sehat bagi negara sekaligus menjaga ketahanan pangan," katanya. Saat ini Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi sekitar 14,8 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional sekaligus membuka peluang memperluas pasar ekspor tanpa mengganggu pasokan bagi petani di dalam negeri. "Bagi kami, keberlanjutan laba bukan sekadar mengejar angka tertinggi setiap tahun, tetapi membangun fondasi bisnis yang kuat agar tetap tumbuh di tengah perubahan kondisi global. Pertumbuhan ini juga harus memberikan manfaat langsung bagi petani dan pelaku usaha di akar rumput," pungkas Rahmad. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News