Laba Sido Muncul (SIDO) Anjlok 44% di Semester I, Analis Yakin Ada Sinyal Pemulihan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tertekan pada semester I-2026. Emiten jamu ini membukukan penjualan sebesar Rp1,47 triliun, turun dari Rp1,83 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih SIDO juga terkoreksi lebih dalam menjadi Rp333,65 miliar dari sebelumnya Rp600,47 miliar.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, penurunan kinerja tersebut dipicu oleh pelemahan volume penjualan dan daya beli konsumen yang masih cenderung selektif.


Baca Juga: Catat Kinerja Operasional Positif, Simak Prospek Saham Emiten Grup Merdeka

“Penjualan turun sekitar 19,7% secara tahunan, sedangkan laba bersih terkoreksi lebih dalam sekitar 44,4%. Ini menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada sisi permintaan, tetapi juga telah memengaruhi profitabilitas perusahaan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Meski demikian, Ekky melihat adanya indikasi perbaikan secara kuartalan pada kuartal II-2026.

“Penjualan kuartal II diperkirakan meningkat hampir 30% dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara laba bersih juga naik sekitar 27% secara kuartalan. Artinya, kinerja mulai pulih dari titik terendah di awal tahun,” jelasnya.

Dari sisi profitabilitas, ia menyoroti tekanan margin yang terjadi akibat penurunan volume serta kenaikan beban operasional.

“Penurunan laba yang lebih dalam dibandingkan penjualan menunjukkan adanya tekanan terhadap margin. Beban pemasaran serta beban umum dan administrasi membuat biaya belum dapat turun secepat kontraksi pendapatan,” paparnya.

Menurut Ekky, belanja pemasaran masih diperlukan untuk menjaga awareness merek dan mendorong pemulihan penjualan. Namun, efektivitasnya tetap harus dijaga agar mampu mengangkat volume.

“Apabila penjualan belum pulih sementara biaya tetap tinggi, margin laba SIDO berpotensi masih tertekan,” imbuhnya.

Baca Juga: Saham JELI Anjlok Meski Telah Klarifikasi Eror Antrean Jual, Begini Kinerjanya

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai tekanan kinerja juga berasal dari faktor distribusi dan permintaan.

“Kinerja SIDO tertekan akibat normalisasi persediaan di distributor, penyesuaian sell-in, serta melemahnya penjualan segmen herbal,” ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan biaya tenaga kerja serta periode Lebaran yang lebih panjang turut membebani kinerja perusahaan.

Menurut Azis, kombinasi penurunan penjualan dan kenaikan biaya operasional membuat laba bersih turun lebih dalam.

“Beban pemasaran dan administrasi yang meningkat belum diimbangi pertumbuhan pendapatan, sehingga margin laba tertekan,” jelasnya.

Untuk prospek ke depan, Ekky menilai kinerja SIDO pada semester II-2026 berpeluang membaik, meski secara bertahap.

“Perbaikan kuartalan menunjukkan proses destocking mulai mereda dan permintaan mulai stabil. Namun, pemulihan kemungkinan berlangsung gradual, belum kembali ke level sebelumnya,” katanya.

Ia menambahkan, konsumsi produk herbal dan suplemen berpotensi meningkat menjelang musim hujan dan akhir tahun.

Baca Juga: Laba CPIN Melonjak 95%, Analis Ungkap Alasan dan Rekomendasi Sahamnya Terbaru

Sementara itu, Azis juga melihat peluang pemulihan, meski tetap bergantung pada kondisi permintaan domestik.

“Kami melihat peluang pemulihan secara bertahap seiring normalisasi distribusi, potensi perbaikan konsumsi, dan pertumbuhan ekspor,” ujarnya.

Dari sisi katalis, Ekky menyoroti sejumlah faktor yang dapat mendorong pemulihan kinerja SIDO, seperti normalisasi persediaan distributor, pemulihan penjualan produk utama, serta ekspansi pasar.

“Selain itu, kemampuan perusahaan mengendalikan biaya bahan baku, pemasaran, dan administrasi akan menjadi faktor penting dalam mendorong pemulihan laba,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa SIDO masih memiliki fundamental yang solid, termasuk neraca yang sehat dan kekuatan merek.

Dari sisi rekomendasi, Ekky menyarankan strategi buy on weakness.

“Buy on weakness di sekitar Rp350. Jika rebound, saham berpotensi menguji Rp390-Rp400, dengan target lanjutan Rp440 per saham,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan risiko penurunan lanjutan apabila harga menembus level support tersebut.

Sementara itu, Azis merekomendasikan netral untuk saham SIDO dengan target harga Rp370 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News