KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (
INET) mencatatkan lonjakan laba bersih dan pendapatan di sepanjang semester I-2026. Melansir laporan keuangannya, laba bersih INET mencapai Rp 33,67 miliar di periode Januari hingga Juni 2026, melesat 340% secara tahunan (yoy) bila dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar Rp 7,65 miliar. Sejalan dengan kenaikan laba, posisi pendapatan bersih INET melonjak 1.958% menjadi Rp 926,45 miliar di semester I-2026, dari periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp 45 miliar.
Baca Juga: OJK Resmikan Icomex 17 September, Bursa Komoditas Mulai Dagang 2027 Secara rinci pendapatan itu berasal dari segmen penyedia alih daya senilai Rp 782,86 miliar dan penyedia layanan internet Rp 143, 58 miliar. Lonjakan pendapatan ini turut mendorong laba bruto INET naik 627,5%, dari Rp 16,78 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp 122,11 miliar pada semester I 2026. Direktur Utama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, Muhammad Arif, mengatakan kinerja keuangan semester I-2026 mencerminkan penguatan skala usaha perseroan. “Kinerja semester I-2026 menunjukkan INET berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat. Pertumbuhan pendapatan, laba bruto, dan laba usaha menjadi dasar penting bagi Perseroan untuk menjaga disiplin operasional dan memperkuat struktur bisnis secara berkelanjutan,” kata Arif dalam keterangannya, Senin (14/9/2026). Arif menambahkan pertumbuhan laba menjadi indikator penting bagi perseroan dalam menjaga kualitas kinerja keuangan. Pihaknya terus menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan dengan pengendalian beban dan penguatan profitabilitas.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan lonjakan kinerja INET terutama didorong oleh peningkatan pendapatan yang sangat signifikan pada semester I-2026. "Hal ini tercermin dari pendapatan yang tumbuh hampir 20 kali lipat menjadi Rp926,45 miliar, sehingga turut mendorong laba bersih naik 340% menjadi Rp33,67 miliar," kata Azis kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).
Baca Juga: Harga Emas Tertekan Yield AS Tembus 5%, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026 Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan pendorong utama kinerja ialah kontribusi pendapatan
outsourcing senilai Rp782,86 miliar yang baru mulai tercatat pada semester I-2026, pos pendapatan yang sebelumnya belum ada pada semester I-2025. Kontribusi dari segmen tersebut menjadi faktor terbesar di balik lonjakan pendapatan tahunan. "Ini mencerminkan ekspansi skala usaha melalui konsolidasi entitas baru ke dalam grup, sejalan dengan lonjakan total aset 703,69% dan ekuitas 787,42% yang memberikan basis modal lebih kuat untuk pertumbuhan ke depan," ucap Abida kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).
Abida juga mengungkapkan prospek INET ke depan bergantung pada keberhasilan integrasi entitas anak usaha baru untuk mengoptimalkan profitabilitas, mengingat beban pokok pendapatan juga naik signifikan 2.750% sejalan dengan ekspansi skala bisnis. Level kapitalisasi pasar saat ini Rp 7,7 triliun dengan basis laba bersih semester Rp 33,67 miliar mengindikasikan valuasi yang sudah premium, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi sinergi jangka panjang dari entitas gabungan. Adapun Azis merekomendasi untuk buy saham INET di target harga Rp 400 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News