KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (
STAA) membukukan penurunan laba bersih di saat pendapatannya naik sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. STAA membukukan pendapatan sebesar Rp 2,48 triliun per kuartal I-2026, meningkat 49,2% YoY dari sebelumnya Rp 1,66 triliun pada kuartal I-2025. Mayoritas pendapatan perusahaan dikontribusikan segmen produk turunan kelapa sawit sebesar Rp 1,86 triliun. Sisanya Rp 621,77 miliar disumbang oleh segmen produk kelapa sawit.
Baca Juga: Saham dengan Konsentrasi Tinggi Keluar, Cek Rekomendasi Pendatang Baru di Indeks LQ45 “Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi penuh dari fasilitas refinery yang mulai beroperasi sejak pertengahan tahun lalu,” kata Kevin Wijaya, Head of Investor Relations STAA, Jumat (24/4). Sementara laba kotor tercatat meningkat 28,5% menjadi Rp 737,37 miliar, dengan perolehan margin sebesar 29,7%. “Hal ini mencerminkan perubahan komposisi produk serta dinamika harga,” paparnya. Sayangnya, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih turun 3,61% YoY ke Rp 293,70 miliar per Maret 2026, dari tahun sebelumnya Rp 304,70 miliar. Total produksi Tandan Buah Segar (TBS) STAA mencapai 221.421 ton sepanjang kuartal I-2026. Raihan ini menurun 7,7% secara tahunan alias year on year (YoY). “Penurunan ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang kurang kondusif selama periode berjalan,” ungkapnya. Meskipun demikian, perusahaan mencatatkan peningkatan efisiensi melalui perbaikan tingkat ekstraksi, dengan CPO
extraction rate meningkat menjadi 22,4%. Senior
Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, segmentasi refinery yang sudah memberikan kontribusi terhadap pendapatan bisa menjadi sentimen positif untuk jangka panjang. Sebab,
refinery merupakan bagian dari upaya hilirisasi.
Baca Juga: IHSG Anjlok 17% dan Asing Kabur Rp 40 Triliun, Ini yang Harus Dilakukan Investor Sayangnya, margin laba tak tumbuh signifikan, karena tertekan operasional refinery. Segmentasi ini baru bisa berkontribusi bagus setelah beroperasi secara optimal. “Ketika
cost profit margin tumbuhnya kurang optimal, artinya ada kenaikan cost of good solds (COGS). Ini karena ada biaya bahan baku dan biaya operasional untuk refinery,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (26/4/2026). Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi melihat, kenaikan beban pokok penjualan, terutama pupuk dan operasional kebun, menekan margin laba. “Ini pun mengimbangi pertumbuhan volume penjualan dan pendapatan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/4/2026). Nafan melihat, STAA bisa memasang strategi inventory dengan meningkatkan stok produk sawit dan turunan sawit untuk
refinery. Sentimen positif penggerak kinerja STAA adalah kebijakan mandatory B50 yang akan membuat kebutuhan domestik tetap tinggi. Di sisi lain,
mandatory B50 ini bisa menjadikan produksi sawit dunia stagnan. “Ada juga ancaman El Nino dan pungutan ekspor,” paparnya.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Lanjut Melemah, Ini Proyeksi Senin (27/4) Wafi bilang, prospek kinerja STAA di tahun 2026 lebih baik dibandingkan emiten sawit peers, karena profil usia tanaman muda yang berproduktivitas tinggi dan tingkat efisiensi cash cost yang kuat. Katalis positif untuk kinerja STAA terkait kenaikan harga CPO global dan katalis permintaan dari program B50. Sementara, risiko untuk kinerjanya adalah anomali cuaca dan fluktuasi harga bahan baku pupuk.
“STAA menarik untuk karena menawarkan kombinasi capital gain dari valuasi yang diskon dan yield dividen yang rutin,” katanya. Wafi merekomendasikan hold untuk STAA dengan target harga Rp 1.100 per saham. Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto melihat, pergerakan saham STAA ada di level support Rp 1.200 per saham dan resistance Rp 1.385 per saham. “Tren menguat, namun sedikit terindikasi jenuh beli, koreksi sudah mendekati area support,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/4). William pun merekomendasikan beli untuk STAA dengan target harga Rp 1.385 - Rp 1.400 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News