Laba Unilever Indonesia (UNVR) Melesat 25,96% di Kuartal III, Cek Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan kenaikan penjualan dan laba bersih pada Januari–September 2026.

Namun, lonjakan laba bersih perseroan belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan bisnis inti karena masih ditopang keuntungan dari penjualan operasi yang dihentikan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan UNVR selama kuartal III-2026 tumbuh 7,2% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 25,8 triliun. Laba bersih meningkat 25,96% YoY menjadi Rp 4,2 triliun, dibandingkan Rp 3,34 triliun pada periode yang sama tahun lalu.


Sementara itu, laba dari operasi berkelanjutan tumbuh 10,6%, melampaui pertumbuhan penjualan di tengah tekanan inflasi yang masih berlangsung.

Baca Juga: Laba Unilever Indonesia (UNVR) Naik 37,7%, Analis Sebut Momentum Pemulihan Berlanjut

Presiden Direktur UNVR Benjie Yap mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh kinerja yang merata di berbagai unit bisnis dan saluran penjualan, peningkatan daya saing, serta penguatan eksekusi strategi dan investasi pada prioritas bisnis.

UNVR juga mencatat pertumbuhan volume penjualan selama lima kuartal berturut-turut.

Perseroan berupaya mempertahankan momentum tersebut melalui penguatan merek, pengembangan portofolio produk premium, serta perluasan bisnis digital.

 
UNVR Chart by TradingView

"Pertumbuhan laba yang melampaui pertumbuhan penjualan menunjukkan kemajuan berkelanjutan dalam membangun bisnis yang lebih kuat," kata Benjie dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).

Di sisi lain, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai, perbaikan kinerja UNVR perlu dicermati lebih lanjut.

Pasalnya, kenaikan laba bersih tersebut masih mencakup keuntungan Rp 870,27 miliar dari penjualan operasi yang dihentikan.

Baca Juga: Laba Unilever Indonesia(UNVR) Melesat 37,7% Jadi Rp 2,97 Triliun pada Semester I-2026

"Pertumbuhan penjualan dan efisiensi perlu menjadi indikator utama untuk mengukur kualitas pemulihan laba. Jadi, hasil ini positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan pemulihan bisnis sudah solid," ujar Elandry kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Menurut Elandry, prospek UNVR hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 akan bergantung pada konsistensi pertumbuhan penjualan inti, daya beli masyarakat, efisiensi biaya, serta kemampuan perseroan menjaga margin di tengah persaingan.

Perbaikan konsumsi rumah tangga dan efektivitas strategi bisnis berpotensi menopang kinerja perseroan. Namun, tekanan daya beli serta kenaikan biaya bahan baku dan distribusi masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

Dari sisi saham, Elandry menyarankan investor melakukan akumulasi secara bertahap untuk jangka panjang, dengan target harga indikatif Rp 1.800–Rp 2.000.

Baca Juga: Kinerja Unilever Indonesia (UNVR) Mulai Pulih, Cermati Rekomendasi Analis

Meski demikian, investor perlu mencermati perkembangan laba operasional dan keberlanjutan pertumbuhan penjualan untuk memastikan kenaikan kinerja UNVR ditopang oleh penguatan bisnis inti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News