KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan kinerja keuangan yang moncer sepanjang paruh pertama tahun 2026. Laba bersih emiten consumer goods ini melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh keuntungan dari penjualan unit bisnis yang dihentikan. Mengacu pada laporan keuangannya per 30 Juni 2026, Unilever Indonesia membukukan penjualan bersih sebesar Rp 16,9 triliun, naik 7,05% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 15,79 triliun pada semester I-2025. Kenaikan penjualan ini turut mengerek beban pokok penjualan menjadi Rp 9,02 triliun, dari sebelumnya Rp 8,17 triliun.
Dengan begitu, laba bruto perseroan tercatat sebesar Rp 7,87 triliun, tumbuh tipis dari Rp 7,62 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Secara rinci, penjualan bersih dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh mencapai Rp 12,36 triliun serta penjualan makanan dan minuman mencapai Rp 4,53 triliun.
Baca Juga: Unilever Indonesia (UNVR) Realisasikan Buyback Rp 285 Miliar Dari sisi beban operasional, beban pemasaran dan penjualan tercatat relatif stabil di level Rp 3,67 triliun, sedikit menurun dibandingkan Rp 3,68 triliun pada semester I-2025. Namun, beban umum dan administrasi justru melonjak menjadi Rp 1,67 triliun dari sebelumnya Rp 1,40 triliun. UNVR juga mencatatkan penghasilan lain-lain neto sebesar Rp 54,79 miliar, berbalik dari beban lain-lain neto sebesar Rp 2,22 miliar pada tahun sebelumnya. Alhasil, laba usaha Unilever Indonesia naik menjadi Rp 2,59 triliun, dari Rp 2,54 triliun pada periode sebelumnya. Pada pos non-operasional, penghasilan keuangan perseroan melonjak menjadi Rp 74,55 miliar dari sebelumnya hanya Rp 3,96 miliar, sementara biaya keuangan justru turun signifikan menjadi Rp 14,64 miliar dari Rp 67,18 miliar. Alhasil, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp 2,65 triliun, meningkat dari Rp 2,48 triliun pada semester I-2025. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp 566,09 miliar, turun dari Rp 588,10 miliar, laba dari operasi yang dilanjutkan tercatat sebesar Rp 2,08 triliun, naik dari Rp 1,89 triliun. Faktor utama yang mendongkrak laba bersih perseroan secara keseluruhan adalah kontribusi dari operasi yang dihentikan. Unilever Indonesia mencatatkan laba dari operasi yang dihentikan sebesar Rp 17,59 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan Rp 266,93 miliar pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pemegang Saham Unilever (UNVR) Siap Panen Dividen Final Rp 114 Per Saham di Bulan Ini Namun, perseroan turut membukukan laba penjualan operasi yang dihentikan sebesar Rp 870,27 miliar, pos yang tidak tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Dus, total laba dari operasi yang dihentikan setelah pajak melonjak menjadi Rp 887,86 miliar, dari sebelumnya Rp 266,93 miliar. Akumulasi dari kedua segmen operasi tersebut membawa laba bersih Unilever Indonesia pada semester I-2026 menjadi Rp 2,97 triliun, tumbuh 37,7% dibandingkan Rp 2,16 triliun pada semester I-2025. Untuk laba per saham dasar, UNVR mencatatkan Rp 55 per saham dari operasi yang dilanjutkan, naik dari Rp 50 per saham pada tahun sebelumnya. Sementara laba per saham dari operasi yang dihentikan tercatat Rp 23 per saham, melonjak dari Rp 7 per saham pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, UNVR melaporkan total aset senilai Rp 16,45 triliun per semester I-2026, menurun dari Rp 20 triliun di akhir tahun 2025. Total liabilitas dan ekuitas perusahaan tercatat masing-masing di posisi Rp 13,43 triliun dan Rp 3,02 triliun per akhir Juni 2026.
Baca Juga: Unilever (UNVR) Bidik Peningkatan Kinerja di 2026, Cermati Rekomendasi Sahamnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News