Lagarde Disebut Akan Mundur Lebih Cepat dari Jabatan Presiden Bank Sentral Eropa



KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, disebut berencana mengakhiri masa jabatannya lebih cepat dari jadwal, sebelum pemilihan presiden Prancis pada 2027. Informasi ini dilaporkan Financial Times (FT), Selasa (17/2/2026).

Masa jabatan Lagarde sejatinya berakhir pada Oktober 2027. Namun, laporan FT menyebutkan, langkah mundur lebih awal ini dimaksudkan agar Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang tidak bisa mencalonkan diri kembali, masih memiliki peran dalam proses penentuan pengganti Lagarde. 

Kanselir Jerman Friedrich Merz juga disebut diharapkan ikut menjadi penentu utama dalam proses tersebut.


Menurut sumber FT yang mengetahui rencana ini, Lagarde belum memutuskan waktu pasti pengunduran dirinya. 

Baca Juga: Ekonomi Dinilai Stabil, Bank Sentral Eropa (ECB) Pertahankan Suku Bunga 2%

Kekhawatiran muncul karena pemilu presiden Prancis 2027 berpotensi dimenangkan kelompok sayap kanan, yang dikhawatirkan dapat mempersulit konsensus dalam memilih pemimpin baru lembaga keuangan terpenting di Eropa tersebut.

Menanggapi kabar ini, juru bicara European Central Bank menegaskan belum ada keputusan apa pun. 

“Presiden Lagarde sepenuhnya fokus pada mandatnya dan belum mengambil keputusan terkait akhir masa jabatannya,” kata ECB. Pernyataan ini berbeda dengan sikap tahun lalu, ketika ECB menyebut Lagarde bertekad menuntaskan masa jabatannya.

Pasar keuangan merespons kabar ini dengan relatif tenang. Nilai tukar euro dan imbal hasil obligasi nyaris tidak bergerak, menandakan investor tidak melihat potensi perubahan besar dalam arah kebijakan moneter ECB.

Laporan FT ini muncul tak lama setelah Gubernur Bank Sentral Prancis menyatakan akan mundur lebih awal, sehingga Macron dapat menunjuk penggantinya sebelum pemilu. 

Baca Juga: Bank Sentral Eropa (ECB) Pertahankan Bunga 2%

Meski pemilihan presiden ECB secara formal dilakukan oleh para pemimpin negara zona euro, praktik selama ini menunjukkan dukungan Prancis dan Jerman menjadi kunci.

Sejumlah nama mulai disebut sebagai kandidat potensial pengganti Lagarde. Di antaranya mantan gubernur bank sentral Belanda Klaas Knot, manajer umum Bank for International Settlements Pablo Hernandez de Cos, serta Presiden Bundesbank Joachim Nagel. 

Anggota Dewan ECB Isabel Schnabel juga pernah menyatakan minat, meski aturan Uni Eropa berpotensi menghalanginya.

Meski demikian, dinamika pemilihan dinilai sulit diprediksi. Nama Lagarde sendiri baru mencuat menjelang penunjukannya tujuh tahun lalu.

Jika mundur dalam waktu dekat, Lagarde akan meninggalkan ECB dalam kondisi relatif stabil. Inflasi berada di target, suku bunga dinilai netral, dan pertumbuhan ekonomi zona euro berada di level potensial. 

Baca Juga: Bank Sentral Eropa (ECB) Tahan Suku Bunga, Isyaratkan Kebijakan Tetap Stabil

Dengan sebagian besar keputusan ECB diambil melalui konsensus, pergantian pimpinan diperkirakan tidak akan langsung mengubah kebijakan.

Saat ini, pasar memperkirakan ECB akan menahan suku bunga sepanjang tahun. Namun, ketidakpastian global yang tinggi tetap berpotensi mengubah arah kebijakan ke depan.

Selanjutnya: Tarif AS 19% Tekan Ekspor Furnitur RI, HIMKI Ungkap Dampaknya

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Kota Cilegon, Lengkap dengan Waktu Sholat