Lagarde Tekan Pemimpin Uni Eropa, ECB Siapkan Checklist Reformasi Ekonomi



KONTAN.CO.ID - Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde berencana meningkatkan tekanan terhadap para pemimpin Uni Eropa (UE) dengan menyerahkan daftar langkah konkret (checklist) reformasi guna mendongkrak pertumbuhan dan daya saing ekonomi kawasan.

Langkah ini dinilai tidak lazim bagi bank sentral, namun mencerminkan kekhawatiran ECB atas lambat dan hati-hatinya proses reformasi struktural di Eropa, meski kawasan tersebut menghadapi tekanan global mulai dari tarif Amerika Serikat hingga konflik geopolitik di perbatasan timur UE.

Baca Juga: Kutipan: Gubernur Bank of England Buka Peluang Penurunan Suku Bunga Usai Voting Ketat


Lagarde mengatakan, daftar tersebut akan disampaikan menjelang pertemuan informal para pemimpin UE pada 12 Februari 2026, yang akan membahas penguatan pasar tunggal Eropa dalam konteks geoeekonomi global yang semakin menantang.

“Apa yang kami putuskan adalah memberikan checklist kami langsung kepada para pemimpin,” ujar Lagarde dalam konferensi pers usai rapat kebijakan ECB, Kamis (5/2/2026).

“Ini adalah daftar langkah yang menurut kami dapat meningkatkan pertumbuhan, produktivitas, dan benar-benar membuka potensi talenta Eropa,” tambahnya.

ECB selama ini kerap menyampaikan rekomendasi reformasi yang sejalan dengan laporan mantan Presiden ECB Mario Draghi.

Namun, Lagarde mengakui seruan tersebut sering diabaikan karena dianggap pengulangan pesan lama tanpa tindak lanjut nyata.

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik ke 231.000, Cuaca Ekstrem Jadi Faktor

Checklist yang akan dikirim ke seluruh pemimpin UE mencakup percepatan pembentukan savings and investment union, pengembangan euro digital, serta pemanfaatan uang bank sentral berbasis token untuk transaksi grosir.

Selain itu, daftar tersebut juga memuat agenda pendalaman pasar tunggal, penguatan inovasi, penyederhanaan regulasi, serta penguatan kerangka institusional inti Uni Eropa.

“Kami tidak bisa melakukan semuanya sendiri,” ujar Lagarde.

“Namun kami sangat meyakini bahwa reformasi besar harus diperdalam atau dipercepat agar potensi Eropa bisa benar-benar terwujud.”

Langkah ECB ini menegaskan, meningkatnya kekhawatiran otoritas moneter Eropa terhadap daya saing kawasan di tengah perlambatan global dan meningkatnya rivalitas ekonomi internasional.

Selanjutnya: Rupiah Melemah Jadi Rp 16.842 per Dolar AS, Simak Proyeksi untuk Jumat (6/2)

Menarik Dibaca: Net Worth vs Gaji: Kenapa Orang Kaya Fokus Kekayaan Bersih, Bukan Penghasilan?