Lagi, neraca transaksi berjalan Jepang surplus



TOKYO. Perekonomian Jepang berangsur-angsur membaik. Neraca transaksi berjalan Jepang kembali mencatat surplus transaksi berjalan selama empat bulan berturut-turut. Bahkan, surplus transaksi berjalan di bulan Mei lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

Menurut data yang dipublikasikan Pemerintah Jepang, surplus transaksi berjalan mencapai ¥ 522,8 miliar. Nilai ini melebihi perkiraan median yakni ¥ 403,6 miliar. Pada April lalu, surplus neraca transaksi berjalan Jepang tercatat sebesar ¥ 187,4 miliar.

Pada tahun ini, defisit neraca transaksi berjalan paling tinggi terjadi pada bulan Januari. Pada awal tahun, Pemerintah Jepang mengumumkan nilai defisit transaksi berjalan mencapai US$ 15 miliar. Kemudian, di bulan kedua tahun ini, transaksi berjalan Jepang kembali positif.


Pada bulan Februari, Jepang membukukan surplus transaksi berjalan sebesar ¥ 612,17 miliar. Di bulan berikutnya, surplus transaksi berjalan Jepang merosot menjadi ¥ 116,4 miliar.

Data Departemen Keuangan Jepang menunjukkan, ekspor Jepang di bulan Mei naik 2% dibandingkan periode sama tahun lalu, tapi lebih lambat dari pertumbuhan di bulan April yakni 6,2%.

"Ekspor lamban dapat dikaitkan dengan rasio peningkatan produksi di luar negeri," kata Koichi Fujishiro, ekonom Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo seperti dikutip Bloomberg.

Sementara impor Jepang juga turun 0,4% pada bulan Mei. Ini merupakan kali pertama Jepang mencatatkan penurunan impor dalam 19 bulan terakhir. Pada April lalu, impor Jepang naik 6,2% year on year (yoy).

Penurunan impor merupakan kabar gembira buat Jepang. Sebab, defisit neraca perdagangan Jepang di bulan Mei tahun ini pun menyempit menjadi ¥ 675,9 miliar yen. Pada Maret lalu, defisit neraca perdagangan Jepang masih di angka ¥ 1,45 triliun.

"Kekuatan pemulihan dalam permintaan global akan memainkan peran lebih besar dari mata uang dalam mempengaruhi ekspor Jepang," lanjut Koichi.

Impor Jepang menurun seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menaikkan pajak penjualan sebesar 5%-8% per 1 April 2014 lalu. Imbasnya, permintaan domestik di Jepang pun melesu.

Asal tahu saja, sejak tahun 2011, Jepang menderita defisit neraca perdagangan lantaran impor energi yang tinggi. Pemerintah mengimpor banyak bahan bakar fosil untuk menutup defisit energi sebagai dampak banyaknya pembangkit listrik yang ditutup.

Kontraksi ekonomi

Meski perdagangan defisit, Jepang masih mencetak surplus pendapatan dari perdagangan saham, obligasi dan surat utang. Jepang berhasil mendapatkan surplus pendapatan ¥ 1,5 triliun pada Mei 2014. Nilai ini lebih rendah 3,2% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sebab, pendapatan dari perusahaan Jepang di luar negeri merosot.

Namun, peningkatan surplus neraca berjalan dikhawatirkan hanya bersifat sementara karena pertumbuhan ekspor melambat pada bulan Mei. Ekspor tidak lagi cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Analis memperkirakan, ekonomi Jepang akan mengalami kontraksi di kuartal kedua setelah kenaikan pajak penjualan. Berdasarkan jejak pendapat Reuters, ekonomi Jepang tumbuh 0,6% pada kuartal kedua.

Di proyeksi awal tahun ini, sepanjang 2014, perekonomian Jepang diperkirakan bisa tumbuh hingga 1,5%. Pada Januari-Maret 2014, ekonomi Jepang berhasil tumbuh 1,6% didorong oleh meningkatkan belanja perusahaan swasta.

Sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing Jepang dan menarik investasi asing, Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang berencana memotong tarif pajak penghasilan badan secara bertahap hingga di bawah 30% dari tahun fiskal yang dimulai pada bulan April.

Editor: Fitri Arifenie