Laguna kejar laba Rp 428 miliar tahun depan



JAKARTA. Banting setir ke bisnis tambang memicu PT Laguna Cipta Griya Tbk (LCGP) memasang target ambisius, tahun depan. Emiten ini menargetkan pencapaian laba bersih sebesar Rp 428,4 miliar. Angka itu meningkat 27,5 kali dari target laba bersih tahun ini yang hanya Rp15 miliar.
Manajemen LCGP menjelaskan target tersebut akan tercapai dari bisnis tambang perseroan. “Tahun depan sudah bisa berproduksi 4.000 barrels oil per day (BOPD),” kata Danny Boestami, Direktur LCGP, Senin (11/6). Tahun ini, LCGP baru akan memproduksi sekitar 600 barrel-650 barrel minyak per hari.
Seperti diketahui, Laguna semula berkecimpung di bisnis properti. Laguna beralih ke bisnis tambang minyak menggunakan skema kerjasama operasi dengan Blue Sky Langsa Ltd. Keduanya akan mengerjakan Langsa Technical Assistance Contract (TAC Langsa) di Aceh Timur.
Untuk masuk ke bisnis tersebut perseroan membutuhkan dana sebesar sebesar US$ 48 juta. Dana tersebut akan disuntikkan kedalam skema kerja sama. Dengan perjanjian LCGP akan mendapatkan seluruh penjualan hingga modal yang disuntikan kembali ke perseroan. Setelah itu net profit sharing akan dibagi.
Masing-masing sebesar 55% untuk LCGP dan sebesar 45% untuk Blue Sky Langsa. Penggunaan dana tersebut diantaranya untuk membuka tambahan satu sumur baru.
LCGP memenuhi sebagian besar kebutuhan dana melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). “Saham baru akan diterbitkan sekitar 8 Juli,” kata Danny. LCGP akan menerbitkan saham baru sebanyak 3,66 miliar saham. Pemegang sepuluh saham lama memiliki hak untuk membeli 26 saham baru. Pemegang saham lama yang melaksanakan haknya akan mendapatkan tiga waran. Namun bagi yang tidak melaksanakan hak tersebut akan terdilusi sekitar 72,22%.
Harga pelaksanaan rights issue tersebut sebesar Rp 100 per saham. Dengan begitu perseroan akan mendapat dana sekitar Rp 366 miliar. Atau sekitar US$ 40 juta. Sisa kebutuhan dana akan dipenuhi dari penjualan aset properti persreoan. Aset yang dijual adalah landbank perseroan di Palembang sekitar 70 hektar, dan cadangan lahan di Cilegon seluas 70 hektar. Perseroan telah mendapatkan pembeli untuk kedua lahan tersebut. Nilai penjualan landbank tersebut sekitar Rp 100 miliar.
Untuk penerbitan saham baru dan penjualan aset properti, perseroan akan meminta persetujuan pemegang dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 27 Juni mendatang. Jadwal itu mundur dari sebelumnya yaitu 18 Juni. Mundurnya jadwal tersebut karena panjangnya antrian di Bapepam LK.
Dalam gelaran tersebut Blue Sky Langsa akan menjadi standby buyer. Dalam pelaksanaan rights issue tersebut founder dari LCGP tidak akan melaksanakan haknya. Dengan asumsi seluruh pemegang saham lain melaksanakan hak kecuali founder LCGP, Blue Sky akan menjadi pemegang saham mayoritas dari LCGP, menjadi pengendali baru dari LCGP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News