Lahan kritis Indonesia capai 24 juta hektare



JAKARTA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) mencatat, jumlah lahan krtis di Indonesia mencapai sekitar 24 juta hektare.

"Sangat miris kita punya lahan kritis 24 juta hektare, sementara APBN hanya mampu untuk menanam 500.000 hektare (ha) per tahun. Butuh waktu 48 tahun untuk kembali menghijaukan lahan kritis di Indonesia," kata Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung KLH, Hilman Nugroho, Kamis (12/11).

Ia mengatakan hal tersebut pada "launching" Penanaman Pohon "Hutan Rektor" di Kampung Sidotopo, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang.


Kondisi tersebut, sangat membutuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menanam pohon. Dia menyebut, gerakan penanaman pohon dari usia SD, SMP, SMA, perguruan tinggi hingga usia matang untuk menikah ini menjadi sebuah terobosan untuk kembali menghijaukan lahan kritis.

Beberapa cara yang perlu dilakukan, antara lain setiap anak SD menanam lima pohon, begitu juga dengan SMP, hingga seterusnya. Termasuk, warga Indonesia yang akan menikah juga diwajibkan untuk menanam lima pohon. Calon pengantin akan mendapatkan surat nikah dari Kementerian Agama jika sudah menanam lima pohon.

"Kesepakatan tersebut sudah ditandatangani oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama pada 15 Juli lalu," tuturnya.

Ia menjelaskan tidak ada sanksi atau konsekuensi jika seseorang enggan melakukan penanaman. Hanya, untuk calon pengantin akan segera mendapatkan surat nikah yang diterbitkan oleh kantor Kementrrian Agama jika ikut melakukan penanaman.

"Caranya, calon pengantin ini nantinya harus memotret penanaman pohon ini. Untuk rakyat kami menyiapkan sekitar 1 hingga 1,5 juta bibit pohon. Kami berharap 70% tanaman yang ditanam adalah kayu keras, 30% buah-buahan," tukasnya.

Ia mengatakan sejak 2010 hingga saat ini sudah ada sekitar tujuh miliar pohon yang ditanam. Meski demikian, dia mengaku tidak mengetahui secara persis luasan lahan yang sudah ditanami tanaman oleh masyarakat.

"Harapan kami tidak harus menunggu 48 tahun agar kembali hijau lahan kritisnya. Targetnya 10 hingga 15 tahun saja," imbuhnya.

Ia mengatakan hutan rektor ini pertama kali dilaunching oleh Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Hutan Rektor ini merupakan inisiasi dan kesepakatan dari 179 PTN dan PTS se Indonesia untuk terus melestarikan lingkungan.

"Sebenarnya, pelestarian lingkungan ini bisa mengurangi efek dari pemanasan global. Saya mengapresiasi langkah Rektor Untidar untuk memulai gerakan ini," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri