Lahan menyempit, SSIA andalkan konstruksi



JAKARTA. Awan hitam menggelayuti bisnis PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Kinerja bisnis inti SSIA, yakni penjualan lahan industri jauh dari harapan.

Di semester I 2013, SSIA hanya berhasil menjual lahan industri 61 hektare (ha). Angka tersebut turun 9,2% dibandingkan periode sama 2012 sebesar 67 ha. Ini menyebabkan pertumbuhan laba SSIA kian terbatas.

Pada paruh pertama 2013, laba bersih SSIA hanya Rp 382 miliar atau tumbuh 2,7% year-on-year (yoy). Akibatnya, margin bersih SSIA di akhir Juni 2013 turun 4,8% menjadi level 16,3% secara yoy.


Reza Priyambada, analis Trust Securities menuturkan, bisnis lahan industri sebenarnya masih bagus. Permintaan lahan industri juga masih meningkat.

Masalahnya ruang gerak SSIA untuk mendongkrak penjualan terbentur ketersediaan cadangan lahan alias landbank yang sudah mulai menipis. Di awal tahun ini, landbank SSIA hanya tersisa 328 ha.

"SSIA tentu harus menjualnya bertahap agar bisa tetap meraih kontribusi penjualan dari bisnis lahan industri," jelas Reza, Kamis (22/8). Terbatasnya landbank ini memaksa SSIA untuk mengerem penjualan lahan industri.

Tahun ini, SSIA hanya menargetkan penjualan lahan industri seluas 100 ha. Ini jauh lebih rendah dari penjualan lahan industri SSIA di 2012 seluas 123 ha per tahun.

Benedictus Agung, analis Samuel Sekuritas dalam risetnya menulis, minimnya landbank bakal mengancam keberlangsungan bisnis kawasan industri SSIA. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi rata-rata penjualan lahan industri SSIA yang seluas 120 ha per tahun. "Dengan asumsi delivery time 9 bulan-12 bulan, tahun 2014 merupakan tahun terakhir SSIA dapat membukukan marketing sales," tulis Agung.

SSIA memahami situasi negatif in. SSIA berniat mengakuisisi 1.000 ha lahan milik PT Perhutani dengan skema land swap. Lahan tersebut di sebelah barat kawasan Suryacipta City of Industries.

Masalahnya, proses akuisisi terbilang rumit lantaran lahan tersebut merupakan aset negara. Untuk memuluskan akuisisi, SSIA perlu mengajukan permohonan kepada Kementerian Kehutanan dengan melampirkan persetujuan dari bupati, gubernur maupun Perhutani.

Pengajuan permohonan baru langkah pertama dari 18 tahapan akuisisi yang harus dilalui SSIA. Dengan kondisi tersebut, Agung ragu, SSIA bisa menyelesaikan akuisisi lahan itu. Apalagi bisa mengembangkan lahan seluas 1.000 ha tersebut.

Akibatnya, SSIA hanya bisa berharap dari sektor konstruksi milik anak usahanya, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Kontribusi NRCA menjadi salah satu pendorong solid pertumbuhan pendapatan SSIA. Namun, bisnis kontruksi hanya menghasilkan margin yang sangat tipis.

Leonardo Henry Gavaza, analis Bahana Securities dalam risetnya menulis, SSIA bakal dapat berkah dari proyek jalan tol maupun proyek properti. Karena itu, dia merekomendasikan buy saham SSIA. Tapi, dia masih belum bisa memberi target harga.

Sementara, Reza menyarankan trading sell saham AISA dengan target harga Rp 760. Agung merekomendasikan hold di harga Rp 1.060. Kamis (22/8), harga SSIA turun 7,79% ke Rp 710 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana