Lahan Terserang Wereng, Petani Minta Bantuan Pemerintah



JAKARTA. Data tentang wilayah yang terserang wereng coklat yang dimiliki petani lebih luas ketimbang data pemerintah. Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir, daerah Karawang, Indramayu dan Cirebon juga terserang hama wereng tersebut. “Di kawasan-kawasan itu menggunakan bibit padi hibrida, sementara hibrida tidak ada yang tahan wereng, total lahan yang ditanami hibrida (di kawasan tersebut) sekitar 100.000 hektare,” jelasnya.Alhasil, Winarno memperkirakan kerugian yang ditanggung petani gara-gara serangan wereng jauh lebih besar ketimbang perkiraan kerugian versi pemerintah. Menurut Winarno, berdasar pengalaman petani, hampir pasti sekitar 70% hingga 80% dari wilayah yang terkena serangan wereng coklat gagal panen. Kontak Tani Nelayan Andalan memperkirakan luas tanaman yang rusak total terserang wereng mencapai 22.700 hektare. Dengan asumsi satu hektare sawah menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebanyak 5 ton, maka volume gabah yang terkena wereng coklat tersebut lebih dari 113.500 ton. Lalu, dengan perhitungan harga GKP Rp 2.680 per kg, maka kerugian yang ditanggung petani untuk setiap hektarenya mencapai Rp 13,4 juta. "Jika ditotal, kerugian yang musti ditanggung petani lebih dari Rp 304,18 miliar," katanya Winarno. Itulah sebabnya, meskipun dampak terhadap target produksi nasional tidak signifikan, Winarno minta agar Pemerintah mau mengulurkan tangannya kepada petani, khususnya yang sawahnya rusak total. "Minimal, penggantian biaya produksi saja," katanya. Bila pemerintah mengabulkan, petani akan memiliki modal untuk bercocok tanam padi kembali di musim tanam berikutnya .Winarno mengatakan, rata-rata biaya menanam padi per hektare - mulai dari menyiapkan bibit hingga panen- adalah Rp 4 juta. Maka, untuk menolong petani yang padinya puso tersebut, pemerintah cuma perlu mengeluarkan dana sekitar Rp 91 miliar.Pemerintah sebenarnya memang telah menyiapkan anggaran untuk kondisi seperti itu. Namun, besar anggaran yang disediakan pemerintah untuk tahun ini jauh lebih kecil ketimbang dana yang diharapkan oleh para petani, yakni hanya Rp 4 miliar. Menurut Bayu, berdasarkan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara, yang bisa diganti hanyalah benih dan pupuk. "Tetapi ini kan bencana luar biasa. Mudah-mudahan sumber income yang hilang dari petani bisa diganti," katanya. n

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: