Laju emas terjegal otot dollar AS



JAKARTA. Penguatan dollar Amerika Serikat (AS) menjegal laju harga emas. Selama mata uang Negeri Paman Sam menguat, harga logam mulia ini sulit bersinar.

Data Bloomberg memperlihatkan, pukul 16.05 WIB Selasa (3/3), emas kontrak pengiriman April 2015 di Commodity Exchange cenderung stagnan, hanya naik tipis 0,03% menjadi US$ 1.208,60 per troi ons. Pekan lalu, emas reli sebesar 1%.

Di dalam negeri, harga emas  justru sudah melemah. Kemarin, emas batangan pecahan 1 gram di Divisi Logam Mulia PT Antam Tbk turun Rp 2.000 menjadi Rp 549.000 per gram. Padahal, pekan lalu harganya naik Rp 7.000 per gram.


Analis PT Esandar Arthamas Berjangka Tonny Mariano mengatakan, rebound tipis harga emas di pasar spot belum bisa membalikkan tren umum penurunan. Di sisi lain, kata Tonny, emas Antam terkoreksi karena investor ambil untung saat rupiah melemah versus dollar AS. 

Pelemahan rupiah justru menjaga harga emas batangan tetap mahal. Apalagi, emas  Antam sudah naik Rp 29.000 per gram sepanjang tahun ini.

Analis SoeGee Futures Alwy Assegaf menilai, sentimen pemangkasan suku bunga Bank Sentral China belum mampu mengangkat harga emas. Jangka panjang, pemangkasan suku bunga itu diharapkan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Dus, permintaan emas fisik bisa naik dan mengangkat harganya. "Sayang, sentimen itu kalah oleh penguatan dollar AS, sehingga emas spot cenderung stagnan," paparnya.

Tonny memperkirakan, hari ini, harga emas spot akan mulai loyo. Pasalnya, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Bank Sentral AS masih cukup kuat di pasar. "Sejauh dollar AS menguat, tren penurunan harga emas masih berlanjut," prediksinya.

Namun, Alwy masih melihat peluang kenaikan terbatas emas spot. Harga emas yang sudah cukup murah akan dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengoleksinya. Aksi semacam ini biasanya dilakukan pelaku pasar sembari mengantisipasi rilis data penting. 

Asal tahu saja, Jumat (6/3) nanti, AS akan merilis data tenaga kerja. Data non farm employment change atau pertumbuhan tenaga kerja di luar sektor pertanian pada bulan Februari 2015 diprediksi 241.000, di bawah bulan sebelumnya yang sebanyak 257.000 orang. "Jika sesuai prediksi, ada peluang dollar melemah sehingga mengerek harga emas," ujar Alwy.

Efek pelemahan rupiah  

Di sisi lain, kata Alwy, emas Antam punya prospek lebih bagus dengan tren pelemahan rupiah. Maklum, rupiah  mendekati level psikologis Rp 13.000 per dollar AS. "Saat rupiah loyo, harga emas batangan bisa tetap tinggi," ujarnya 

Deflasi yang terjadi dua bulan berturut-turut bisa mendorong Bank Indonesia memangkas kembali suku bunga. Jika ini terjadi, rupiah akan semakin tertekan, sehingga pelaku pasar akan hedging ke emas dan mengerek harganya. 

Meski demikian, ia menduga, kenaikan hanya terbatas. Sebab di sisi lain, harga emas spot yang menjadi acuan masih dalam tren penurunan.

Prediksi Alwy, sepekan, emas spot akan bergulir di kisaran US$ 1.190-US$ 1.234 per troi ons. Sedangkan, emas Antam bergerak di kisaran  Rp 520.000-Rp 570.000 per gram. Dengan catatan, rupiah bergerak antara Rp 12.900-Rp 13.000 per dollar AS. 

Tonny menduga, hingga akhir pekan ini, emas dunia melemah antara US$ 1.180-US$ 1.225 per troi ons. Emas batangan bisa bergerak di kisaran Rp 545.000 sampai  Rp 552.000 per gram.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto